Embracing Deeds

By : Deivine Signor

 

Do what you love, love what you do and deliver more than you promise. Kata-kata ini ditulis oleh Harvey Mackay dan begitu berpengaruh pada diri saya. Kerapkali, banyak orang yang melakukan suatu pekerjaan hanya karena pekerjaan itu telah menjadi sebagai suatu rutinitas tanpa ada greget-nya. Mungkin anda akan menyelesaikan suatu pekerjaan, tetapi mungkin anda hanya sekedar menyelesaikannya.

 

Dua hari sebelum saya menulis tulisan ini, saya bertemu kembali dengan seorang teman lama. Ia bercerita tentang frustrasi hidup yang dia alami selama tahun 2006. Ia harus berjuang dalam kariernya bahkan sempat bentrok dengan kepala bagiannya selain ia harus membiayai kuliahnya sendiri. Pada puncak frustrasi itu, ia bahkan mempertanyakan Allah. Ia mengatakan bahwa Tuhan sungguh tidak ada. Saya menghadapi sekian banyak konflik tetapi kenapa Tuhan tidak membantu saya. Pada saat itu, ia seakan alergi dengan kata Tuhan dan segala hal yang berhubungan dengan itu. Tetapi oleh karena satu moment yang membuatnya berubah akhirnya ia kembali menikmati hidupnya dan berdoa mohon ampun atas kelancangannya pada Tuhan.

 

Mungkinkah anda pernah mengalami hal ini. Pada saat itu, banyak emosi negatif telah menguasai diri kita dan biasanya tindakan kita pun akan terbawa. Sebab dari pengalaman saya sendiri, tidak ada orang yang marah sekaligus bisa berekspresi tertawa. Jadi, kalau hati seseorang sudah panas dan marah sikap yang akan keluar pasti terbawa amarah. Bahkan ada kemungkinan kita tidak terlalu menyadari apa yang kita lakukan. Kita menjadi seperti orang yang aneh.

 

Namun, perhatikanlah satu hal. Pada saat emosi negatif itu berada pada titik tertinggi sekaligus kecerdasan berada di titik yang terendah. Hal inilah yang akhirnya kelihatan. Sebaik-baiknya anda menjaga diri supaya tidak bicara dengan kasar tetapi jika sudah mencapai titik tertinggi anda akan melupakan semuanya.

 

Satu hal yang bisa anda lakukan untuk menghindari hal ini adalah memukul dengan keras telapak tangan anda sendiri dan katakanlah ”berhenti!” Rasa sakit di tangan anda akan mengembalikan anda pada kesadaran untuk tidak terbawa emosi. Cara sederhana ini telah terbukti dilakukan oleh sekian banyak orang. Anda pun bisa bernyanyi-nyanyi kecil jika anda sedang dalam suatu masalah. Hal ini pun akan membawa anda pada kesadaran akan diri anda yang sesungguhnya. Bernyanyi-nyanyi kecil sudah menjadi obat mujarab buat saya jika sedang menghadapi satu hal.

 

Dua hari yang lalu, saya juga bertemu dengan seorang Filipina, bersama teman saya yang lain. Mr. Rosano adalah kepala sekolah di Binus, Tangerang. Waktu itu, ia hendak mengambil pakaian yang sudah dijahitkan di salah satu tempat di Taman Jajan BSD. Tetapi sesampai di sana, ia begitu kesal karena tempat itu telah ditutup padahal informasi yang ia dengar sendiri dari orang yang bekerja di situ bahwa tempa itu tutup jam 21.00 wib. Padahal waktu kami ke sana masih jam 19.30 wib. Beberapa kali ia menelpon pemilik tempat itu dan disarankan untuk menunggu. Sampai kami pulang dari tempat itu, karyawannya tidak seorang pun yang datang.

 

Anda tau apa yang terjadi jika anda berhadapan dengan kejadian itu? Ada orang berkata menunggu adalah hal yang sangat membosankan. Dan Mr. Rosano mengalami hal itu. Yang lebih menarik adalah bagaimana ia mengatasi kekesalan dan mungkin juga kemarahannya. Ia mulai bercanda dengan teman saya, ia tertawa, memperhatikan orang-orang di sekitar sambil berharap karyawan itu datang. Jelas sekali ia mencoba mengalihkan kekesalannya. Ia bahkan sempat berkata: ”saya tidak akan pernah lagi menjahitkan pakaian di tempat ini. Lebih baik saya memilih yang di sebelah depan. Mungkin saya akan lewat di depan taylor ini sambil berkata kamu mau saya menjahitkannya di situ? Tapi saya hanya lewat saja dan menuju taylor yang di depannya”.

 

Tanganilah emosi anda, maka anda tidak akan tenggelam dalam kekesalan anda. Sangat sederhana untuk menangani masalah ini. Anda bisa mengalihkan pembicaraan sehingga anda bisa tersenyum bahkan tertawa. Anda pun bisa melakukannya dengan bersenandung. Biasanya senandung yang akan keluar pada saat itu adalah ungkapan kekesalan. Tetapi kekesalan telah terbukti teratasi dengan sikap ini. Kenapa? Karena seluruh hasrat emosi itu ditumpahkan pada senandung itu sehingga anda akan lega.

 

Saya menjadi teringat, akan kata-kata seorang pembimbing spiritual saya. Ia berkata: ”jika anda marah, ingatlah bahwa pada saat itu anda terkalahkan oleh emosi anda sendiri. Berusahalah untuk mengalahkan emosi anda dan bukan sebaliknya”. Satu menit dalam kehidupan kita dikendalikan oleh emosi negatif bisa seribu kesempatan baik kita tolak. Pernahkah anda mendengar sebuah ungkapa sederhana: ”jangan marah-marah jika hendak memulai usaha di pagi hari. Ntar rejeki bisa-bisa kabur”. Sangat sederhana tetapi hal ini telah dibuktikan oleh sekian banyak orang. Anda mungkin mengetahui alasannya. Sebab dengan sikap yang tidak tepat untuk menghadapi satu hal anda bisa membuang peluang yang tepat buat anda. Selamat mengolah diri dan sikap anda.

Comments
2 Responses to “Embracing Deeds”
  1. Marinus W. says:

    Yaahowu Bang DV.S
    Bang ini saya Marinus W.
    Saya merasa tersentuh membaca tulisan diatas, seolah saya berada dalam mimpi, dan hidup ini seolah berlanjut ribuan tahun lagi…bukan?

    Karena itu, tulisan diatas bang saya udah copy-paste ke situs kita ono niha agar melalui tulisan abang ono niha dapat semakin tercerahkan bolehkan?

    kapan ke bandung lagi ehh…kami bersama teman-teman baru pulang dari BSD City minggu yang lalu…ada kegiatanlah…tahu sendiri..

  2. Deivine Signor says:

    Hei, Saudara Marinus…great friend…just do your best too. It’s okey. How’s life?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: