Drive By Need

By: Deivine Signor 

 

Beberapa saat yang lalu, dalam perjalanan pulang dari Sukabumi menuju Bandung saya bertemu dengan seorang teman bernama Nina di atas bus. Nina adalah seorang receptionis di hotel Saung Galing di Bandung. Dalam beberapa bagian pembicaraan, Nina membicarakan keinginannya untuk melanjutkan kuliah lagi supaya kariernya semakin bagus. Tetapi ia masih kebingungan harus memasuki jurusan apa, supaya sejalan dan mendukung masa depannya. Tetapi yang lebih mengejutkan buat saya adalah, ia baru saja dalam perjalanan pulang dari Pelabuhan Ratu. Ia pergi seorang diri karena selama ini ia hanya mendengar nama tempat itu. Walaupun ia orang bandung asli dan Pelabuhan Ratu tidak terlalu jauh dari tempatnya.

 

Sungguh luar biasa, hanya karena ingin mengetahui Pelabuhan Ratu, ia pergi seorang diri, berangkat pagi dan pulang di sore harinya tanpa memberitahukan orangtuanya. Sebab ia tahu pasti tidak akan diizinkan. Ia kelihatan begitu senang dan mendapatkan sesuatu dari perjalanannya hari ini.

 

Pernahkah anda mengalami hal yang seperti ini? Karena keinginan yang kuat orang bisa melakukan apa saja dan mereka berhasil. Sangat sederhana, apa yang dilakukan Nina. Ia hanya berkata ”saya akan pergi” dan ia langsung mengambil langkah pertama untuk pergi. Banyak orang dalam kehidupan mereka hanya bermimpi ingin pergi ke suatu tempat tetapi tidak pergi mengambil langkah pertama alis menunda dan menunda terus. Apa yang akan mereka dapatkan? Tiada lain selain pekerjaan yag semakin menumpuk dan menumpuk terus sehingga kerap rencana dan rasa ingin tahu mereka hilang begitu saja.

 

Kerap dalam kehidupan saya, kekuatan kebutuhan ini sangat bisa mendongkrak saya untuk melakukan sesuatu. Biasanya, jika saya tidak terlalu membutuhkan sesuatu,  saya tidak akan terlalu memaksa diri. Tetapi jika ada satu hal yang inginkan dan begitu penting, apapun akan saya lakukan dan biasanya berhasil. Saya pernah tinggal beberapa saat di suatu tempat di Bandung. Biasanya jika mau pergi keluar, kita harus minta izin dan kerap tidak dikabulkan jika dianggap tidak penting. Salah satu metode saya jika saya mau pergi keluar adalah memberitahukan dan bukan minta izin. Saya akan berkata: ”nanti, saya akan pergi bersama dengan seorang teman”. Dan ini sering saya lakukan. Tetapi bukan berarti saya melakukannya setiap saat. Hanya jika saya tahu suatu hal sangat penting buat saya dan saya harus pergi keluar. Karena saya tidak pernah keluar jika tidak ada yang penting bahkan walau hanya sekedar jalan-jalan.

 

Jika anda memperhatikan lima tingkat kebutuhan Maslow, anda akan menemukan yang paling tinggi adalah aktualisasi diri. Maka, kekuatan dari kebutuhan yang paling kuat adalah aktualisasi diri. Siapapun pasti akan mengaktualisasikan diri dengan berbagai tingkah, pola bicara, gaya pakaian dan lain sebagainya. Yang kita lakukan setiap saat adalah aktualisasi diri. Kenapa orang harus bersusah-susah untuk kuliah, cari pekerjaan, cari pasangan hidup, mengejar waktu walalu hanya semenit saja. Ini semua karena mereka ingin mengatakan pada dunia bahwa ini adalah saya.

 

Tidak begitu mengejutkan ketika anak-anak muda zaman sekarang, buat sebagia orangtua kelihatan aneh-aneh. Apalagi bagi mereka yang sedang mencari jati diri. Mereka akan tampil dengan gaya yang setiap saat berbeda. Tujuannya tiada lain supaya orang lain menghargai mereka dan menganggap mereka tetap ada di sekitar kita. Sangat menyedihkan misalnya jika anda sudah melakukan sesuatu yang terbaik tetapi semua itu tidak pernah dianggap. Saya sering bertemu dengan anak-anak muda yang dalam kehidupannya sehar-hari kerap tidak diperhatikan. Sungguh benar, bahwa orangtua mereka memberi apa yang mereka perlukan, tetapi mereka tidak pernah didengar bahkan tetap dianggap masih kecil. Maka, mereka memiliki rasa ingin keluar dari hal-hal seperti ini. Mereka membutuhkan sesuatu untuk menunjukkan bahwa mereka bisa melakukan sesuatu.

 

Seharusnya orangtua bisa menyadari kembali hal yang paling penting ini. Jangan membiarkan anak-anak anda sebagai orang yang tidak mampu bicara pada akhirnya. Sebab saya selalu berhadapan dengan anak-anak yang susah untuk mengungkapkan isi kepalanya. Mereka akan cenderung hanya menjadi pendengar yang baik. Dan jika tidak, mereka akan menjadi pencari perhatian yang ulung dengan segala sikap yang mengundang perhatian.

 

Hal ini jangan sampai menjadi lumrah. Sebab jika kita diam dalam ketidak-mampuan mengungkapkan siapa kita, kita tidak akan dianggap. Untuk menutup tulisan ini, saya jadi teringat ketika say amasih kuliah dulu. Seorang dosen yang selalu bertanya di sela-sela kulaihnya. Dan jika kita diam dan tidak menjawab, ia akan menggebrak meja dan berkata: ”saya heran apakah mahasiswanya yang bodoh ataukah dosennya yang bodoh ataukah kedua-duanya?”  perhatikanlah menit kehidupan anda jangan sampai anda melewatkannya dengan biasa-biasa saja. Sebab, tidak ada yang biasa-biasa saja dalam kehidupan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: