PSIKOLOGI PUASA DAN PESTA PASAR

Written by DS Ollyn Zb. 

Note: This article had been sent to Kompas Media by author. But until now, the media has not reply or gives any responses. So, the author sends this article to www.amoretvita.wordpress.com.  


Ruang cinta dan kelimpahan rahmat dalam Ramadhan mengajak semua umat untuk berubah dan berbuat amal serta kembali mendekatkan diri pada Sang Khalik.Gema suara Ilahi bersahutan dari setiap mesjid yang menyelusup dalam setiap sanubari umat, menggetarkan dan memanggil untuk bersujud. Sungguh luar biasa. Kedamaian meraja dalam untaian sunyi nada-nada suci yang menyentuh batin dan impian tercerabut dari tidur menggapai nilai-nilai dasar manusiawi. Melihat orang lain sebagai ciptaan Ilahi.             Surga seakan tercipta di atas bumi. Kegersangan hati tersiram bak nadi yang baru saja dialiri darah setelah sekian lama kering. Ramadhan menghentak dan mengharap semua manusia kembali pada fitrahnya. Namun, saat indah ini seperti hari-hari yang lalu. Bedanya, hanya diberi muatan religius dan spiritualitas yang memadat dan seakan akut. Semua hal ini karena bersanding dengan air mata orang-orang kecil yang masih menetes dari gebrakan kebijakan politik dan imbas dari modernisasi masyarakat tak berhati.             Sekian banyak kebijakan yang melebur setiap subyek dan objek dalam dinamika rantai kekuasaan tak berujung. Dan kebungkaman seperti virus senyap pun merayapi mobilisasi masyarakat modern. Alih-alih dengan alasan situasi hidup yang sibuk dengan sekian banyak tuntutannya tetapi sebenarnya ketakutan untuk mengorbankan diri memberi lebih dari yang biasa diberi.  

Hati untuk Ramadhan           

Kekerasan Tak Bersuara yang ditulis oleh Rieke Diah Pitaloka dalam edisi kompas (1/9) adalah mutiara terdalam untuk melihat setiap bongkahan hati untuk bulan Suci Ramadhan. Sekian banyak fenomena hidup yang meretankan hidup ke arah kematian senyap, kebisuan rasa, dan stagnasi nilai. Kebijakan politik seperti lebih bernilai dari sejumlah pekikan rakyat yang mengharap untuk didengar. Persoalan lautan lumpur Sidoarjo yang masih menggantung, penggusuran warga di bawah kolong jalan tol, kenaikan harga tol, masalah buruh migran dan Terminal Tiga Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pailitnya PTDI di Bandung dan nasib karyawannya yang sudah di PHK dan lain-lain.             Ironisnya, semua fenomena ini terjadi sebelum bulan Suci Ramadhan atau jauh sebelum bulan Suci Ramadhan saat ini. Pertanyaannya, bagaimana kita mendapat perubahan jika apa yang kita lakukan sama setiap saat. Menyelesaikan suatu masalah ketika sudah begitu berakar atau malah membiarkannya seakan tidak pernah terjadi tatkala tiada terlihat titik akhirnya. Dengan semua fenomena yang ada, kemungkinan kita sudah masuk dalam labirin stes yang akut [survival stress and environmental and job stress] yang membuat kita semakin kelelahan. Sehingga Fight or Flight Mechanism menjadi sebuah metode inheren di tengah kebisingan ini.               Lalu, apakah bulan Suci Ramadhan hanya sekedar pemadatan nilai-nilai spiritual sesaat, dimana setiap orang seakan menumpuk rahmat hanya untuk diri sendiri dan sesudahnya kebiasaan lama terulang kembali? Ataukah bulan Suci Ramadhan menjadi suatu lisensi tersendiri yang bisa diperlihatkan kepada setiap orang bahwa seseorang sudah melakukan amal? Sehingga dengan semua itu manusia sungguh menjadi manusia baru? Saatnya hati harus bersuara dan keluar dari tindakan kita yang nyata. Tunjukkanlah iman lewat perbuatan sebab satu perbuatan berbicara lebih banyak dari seribu kata-kata.  

Puasa Ramadhan

Perintah berpuasa dari Allah terdapat dalam Al-Qur’an di surat Al-Baqarah ayat 183“Yaa ayyuhaladziina aamanuu kutiba alaikumus siyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina min qablikum la allakum tataquun”.  Puasa diwajibkan agar semua umat menjadi umat yang bertaqwa. Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum tetapi juga menahan diri dari menipu, dan berbagai sikap buruk lainnya. Semua ini menuntut keutuhan hidup setiap umat.             Bagaimana keutuhan ini bisa terjadi dalam bulan Suci Ramadhan tatkala masih ada orang yang merasa jadi korban? Tatkala kepelikkan hidup seakan mencabik setiap bagian tubuh manusia? Dalam rentang waktu dan fenomena seperti ini, manusia seakan terbagi dua. Pertama, mereka yang menjalankan puasa Ramadhan dengan keberuntungan hidup. Orang-orang yang berada pada bagian ini, biasanya akan menjadi donatur yang membagikan sekian banyak bantuan kepada orang-orang yang tidak mampu. Mereka berpuasa dengan jaminan hidup yang tidak perlu dikuatirkan. Kedua, mereka yang menjalankan puasa dengan keberuntungan hidup yang kerap buntung. Mereka adalah para gelandangan dan pengemis, orang-orang yang hidup dalam kekurangan. Pada bulan-bulan puasa, mereka menjadi begitu berjubel meminta dan mengharap berkat lewat dentingan keping-keping perak yang diberi oleh orang-orang berada.             Tidak mengherankan jika pada bulan-bulan puasa terjadi sebuah gelombang yang sangat besar. Gelombang pasar yang memikat setiap orang untuk mendapatkan keberuntungan hidup yang lebih. Memang bukan hanya pada bulan puasa, tetapi pada setiap saat hari-hari penting agama-agama gelombang pasar atau pesta pasar menjadi wajah baru kehidupan kita.  

Pesta Pasar           

Gelombang pasar atau pesta pasar bukanlah dalam pengertian yang sempit. Jiwa pasar berada pada tawar-menawar, meningkatnya omzet pasar, bertemunya produsen dan konsumen. Intinya adalah meningkatnya stimulus untuk memperoleh sesuatu yang lebih.  Semua ini bisa terjadi pada saat hari-hari penting agama-agama. Sehingga kecenderungan yang terjadi adalah agama yang berkiblat pasar. Agama bukan dalam arti nama agama tetapi orang-orang yang beragama. Semua pelaku pasar di Indonesia khususnya adalah orang-orang yang beragama.  Dan kelihatan bahwa tidak ada seorang yang tidak mengambil keuntungan dari setiap event agama atau sekedar penikmat dari proses pasar di setiap event agama.            Perhatikanlah banyaknya label-label diskon di mall pada bulan Ramadhan, acara-acara televisi bernuansa religius dan yang lebih mengagetkan gelombang jumlah pengemis yang meningkat di setiap tempat keramaian kota-kota besar. Semua orang terangsang untuk mendapatkan keuntungan dan menikmati keuntungan. Sehingga selain berpuasa dalam bulan Ramadhan pelaku pasar pun tetap mendulang keuntungan atau hanya sekedar mencari nama. Semua ini menggambarkan sisi psikologi yang semakin gamang.             Maka, sangat dimaklumi apa yang terjadi setelah bulan Suci Ramadhan berlalu. Mereka yang menahan diri selama puasa akan kembali pada kebiasaan lama dan mereka yang mendapat keuntungan pada bulan puasa akan terus mengumpulkan keuntungan. Pesta pasar akan terus berlanjut dan puasa terasa sekedar memanjakan diri sesaat. Kita kehilangan makna terdalamnya. Kita melupakan dasar terutuhnya.

Fitrah Ilahi           

Setiap manusia diciptakan sesuai dengan rupa Allah dan diberi kuasa oleh Allah untuk menjalani dan mengelolah hidup supaya manusia tetap kembali pada fitrahnya sebagai ciptaan Allah. Jika setiap manusia hanya hidup untuk dirinya sendiri, kecenderungan yang tetap akan terjadi adalah tidak pernah puas dengan hidupnya. Entah atas dasar nama apapun, manusia akan menjadi pemangsa bagi manusia lainnya [homo homini lupus]. Entah berbalutkan baju jirah berkilau malaikat sekalipun dan berwajah seperti Allah, manusia akan tetap menjadi musuh bagi yang lain. Kenapa? Karena berdiri di atas rencana sendiri dan bukan rencana Allah atau mengatasnamakan Allah tetapi melakukan rencana sendiri.            Semua yang diinginkan manusia bisa terjadi dewasa ini. Dan jika semua bisa terjadi, kenapa kita tidak menginginkan semua kebaikan terjadi di atas muka bumi. Sebagaimana terdapat dalam Quran surat Al Qoshash: 77 yang berbunyi, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri-negeri akhirat, janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. Berpuasalah bukan untuk dilihat manusia tetapi oleh Allah, apa yang tersimpan dalam hatimu. Seperti yang tertulis dalam Asrar Ash-Shaum (Rahasia Puasa), Imam Al-Ghazali mengatakan, “Puasa adalah satu-satunya ibadah yang tak dapat dilihat oleh orang lain melainkan Allah karena merupakan amalan batiniah yang dilakukan dengan pertahanan dan kesabaran yang sungguh-sungguh”. Sehingga kita bisa kembali dalam fitrah yang Ilahi.                 

DS Ollyn Zb

Team Consultant at Surya Prime Value Motivation Center and the Leader of Care of Excellence Development.

Comments
3 Responses to “PSIKOLOGI PUASA DAN PESTA PASAR”
  1. Marinus Waruwu says:

    Salam Kasih D.V
    Ternya loe juga jago nulis tentang Ramadhan….bleh ajarin inggak..

  2. Deivine Signor says:

    wah…saudara mau belajar dari saya? saya sangat senang sekali. Tapi apakah saudara tidak salah memilih guru? hehehe….

  3. Marinus W. says:

    He jngan salah klo gua yang mlih tpat bnget…percaya deh…

    Lho udah punya pacar belum…tante gua ngirim sms kemarin ke gua bahwa dia jatuh cinta ama loe …lhoe mau inggak?

    Alamat http://www.niasbaru.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: