T I B O – A M R O Z I

Oleh Postinus Gulö

Tibo-Amrozi, dua sosok berbeda. Saya tidak kenal Tibo pun Amrozi. Saya hanya mendengar siapa mereka lewat media elektronik dan surat kabar. Mereka berdua (ter/di) benamkan dalam peristiwa mengerikan. Hanya saja Tibo adalah orang tertuduh. Amrozi adalah pelaku benaran. Tibo dituduh dalam kerusuhan Poso. Amrozi dalang pengemboman Bali, bukan sebagai tertuduh. Tibo berjasa menyelamatkan penghuni asrama saat kerusuhan terjadi. Amrozi malah bergembira ria saat Bom Bali terjadi. Tibo menyebut-nyebut 16 orang yang berada di balik kerusuhan Poso tapi tidak ditanggapi. Tibo dijatuhi hukuman mati. Tibo sedih. Dari raut mukanya tanda “pertobatan” tersirat. Wajahnya berbinar seolah tak kuasa menerima hukuman itu. Tibo menangis. Ia menunggu ambang ajal. Tetapi ada niat, Tibo mengajukan peninjauan kembali juga grasi tapi ditolak. Tibo mengaku bukan dia pelaku kerusuhan Poso. Memang, Tibo ada di tempat kejadian kerusuhan. Tapi bukan sebagai penghasut namun mau menyelamatkan orang-orang yang menjadi objek amuk massa. Suatu misi luar biasa dan heroik! Tapi 21 September Tibo cs ditembak mati. Dunia pun berlinang air mata. Lantas banyak yang bertanya, dimanakah keadilan dan kebenaran?

Amrozi tak pernah mengaku bahwa saat kejadian Bom Bali ia berada di sana untuk menyelamatkan orang. Sebaliknya, ia bergirang ria sambil berseru, Allahu Akbar! Bukti ia puas dengan kejadian berdarah itu. Amrozi dijatuhi hukuman mati. Ia malah bergirang. Seolah hukuman itu adalah tiket menjadi martir, pahlawan sejati. Ia mengajukan grasi agar dipancung saja. Bukan grasi agar ditinjau ulang! Tapi aneh, sampai detik ini belum kunjung dihukum mati, entah dipancung atau ditembak.

Tibo-Amrozi adalah simbol dualisme: hitam putih, terang buram, adil-tidak adil, benar-salah (saya tidak berani menyebut merah-putih karena itu lambang bendera Indonesia!). Tibo adalah sosok “terang” yang diburamkan. Amrozi adalah sosok buram yang “di-terang-kan”. Tidak lebih dari itu. Indonesia memang seperti itu. Itu real. Dan, Indonesia bangga dengan itu. Memang saya tidak kenal Indonesia. Saya hanya sadar bahwa saya orang Indonesia. Saya hanya tahu bahwa, dalam kasus ini, Indonesia sesungguhnya bukan milik Tibo tapi milik Amrozi. Indonesia adalah para hakim dan jaksa serta orang berpengaruh lainnya yang pro Amrozi. Itu Indonesia yang saya maksud. “Indonesia” itu pun saya tidak kenal siapa mereka.

Memang, ada hipotesis bahwa jika Amrozi ditembak mati, ia bangga bahwa ia nabi dan martir. Kelompoknya bukan makin takut melainkan makin bergeming-bergirang. Suatu hipotesis bukan sebagai tesis. Tapi dasar Indonesia, hipotesis adalah tesis, tuduhan adalah dakwaan. Sama halnya yang diberlakukan terhadap Tibo. Ia tidak mengaku sebagai dalang kasus Poso. Dan, memang begitu. Tapi ia tetap dihukum mati. Di Indonesia bumi menjadi langit, langit menjadi bumi. Di Indonesia, kepala menjadi kaki (dan ekor.) Di Indonesia, keadilan adalah ketidakadilan, kebenaran adalah pembenaran, menghukum adalah membalas. Di Indonesia yang jelas diburamkan, yang buram dianggap jelas. Di Indonesia, yang lemah ditindas, yang kuat dihormati, yang bermulut besar akan menang.

Dalam kasus Tibo-Amrozi membuktikan Indonesia cacat. Indonesia sejatinya buta keadilan, buta hukum, buta kebenaran, buta etika, buta agama, buta kebaikan. Dalam kasus Tibo-Amrozi membuktikan Indonesia tidak normal. Indonesia tak punya hati, tak punya mata, tak punya telinga, tak punya otak. Dalam kasus Tibo-Amrozi……..(bisa diisi sendiri!). Dalam kasus Tibo Indonesia hanya punya palu untuk menghukum, hanya punya lidah untuk membelokkan fakta menjadi fiksi dan fiksi menjadi fakta. Indonesia tidak punya otak untuk berpikir, tak punya mata untuk melihat, tak punya telinga untuk mendengar, tak punya hukum demi keadilan. Apakah ini Indonesia?

Ternyata, dalam kasus Tibo-Amrozi, Indonesia bukan Negara hukum yang menjunjung tinggi keadilan, bukan Negara beragama. Dalam kasus Tibo, hukum Indonesia adalah hukum rimba, hukum sesuka penguasa.

Banyak kalangan tahu bahwa Tibo bukan dalang kasus Poso. Banyak kalangan tahu bahwa Tibo tidak sebejat yang dituduhkan. Banyak kalangan yang menolak hukuman Tibo. Mereka protes. Mereka tidak rela Tibo menjadi korban kambing hitam. Kasus Amrozi berbeda. Banyak kalangan tahu bahwa Amrozi pelaku Bom Bali. Banyak kalangan mengutuk tindakan Amrozi itu. Tetapi ada yang menarik. Hukuman Tibo-Amrozi ditentang Vatikan. Itu seharusnya, yang punya hati!

Dalam kasus Tibo-Amrozi, secara politis, Indonesia tercoreng di mata masyarakat internasional. Tetapi Indonesia tak peduli. Indonesia tidak gentar, maju terus.

Sesungguhnya Indonesia bukan seperti dalam kasus Tibo-Amrozi. Indonesia adalah Negara yang memiliki hukum. Indonesia memiliki dasar Negara. Indonesia bukan milik Amrozi dan konco-konconya. Indonesia milik Tibo dan milik masyarakat Indonesia. Maka, kita sama di depan hukum. Itu idealnya. Itu yang tertulis dalam UUD Indonesia. Soekarno, sebagai salah seorang founding fathers bangsa Indonesia mendengungkan hal itu: Indonesia bukan milik kelompok tertentu. Indonesia adalah milik semua masyarakat Indonesia. Titik.

 

Postinus Gulö adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unpar, Bandung

Comments
6 Responses to “T I B O – A M R O Z I”
  1. Ada banyak hal yang menarik dari tulisan mengenai Tibo-Amrozi ini. Sebuah dualitas ambigu dimana satu di antaranya mengaku superior dari yang lain. Sehingga kerap yang namanya negara hukum selalu diarahkan pada hukum satu pihak. Maka, ple-setan ini semakin memuncak tatkala Mahkamah Agung pun belum memastikan tanggal eksekusi Amrozi. Saya sendiri berpendapat, tidak mungkin eksekusi itu diadakan di bulan puasa sebab semua orang takut berdosa. Alih-alih, eksekusi, hukum bagaikan bola yang bisa ditendang kesana-kemari oleh faktor superioritas, faktor agama mayoritas yang bergaung lewat Allahu Akbar-nya Amrozi. Ini kenyataan dan bukan asumsi belaka.

  2. eStHer says:

    Yapz…benar…sy setuju karna keadiLan mmg masih mahaL untuk dijangkau oLeh orang atau keLOmpok tertentu…

  3. xXx says:

    Memang benar …. itulah Indonesia, Indonesia yang tidak mengenal Cinta Kasih, Indonesia yang para pemimpin katanya beradab namun biadab, Indonesia sarang penyamun & teroris yang menilai seseorang kafir bila tdk sefaham dengan Dia yang patut untuk disingkirkan.

    OLEH KARENA NAMAKU KAMU AKAN DIBENCI SEMUA ORANG

    YA TUHAN AMPUNILAH MAREKA KARENA MAREKA TIDAK TAHU APA YANG SEDANG MAREKA PERBUAT.

  4. bloonsterific says:

    Just wanted to tell you all know how much I appreciate your postings guys.
    Found you though google!

  5. 5inar says:

    Bertobatlah dan kembali ke jalan yang benar.

  6. Sinichi Kudo says:

    Memang ini adalah hal yang sangat aneh . Manusia adalah ciptaan Tuhan, jadi hidup-mati manusia pun hanya Tuhanlah yang menentukan. Mengapa manusia biasa “berani” mengakhiri kehidupan manusia ? Meskipun kejahatannya tidak bisa dimaafkan, tetapi dengan alasan tersebut menggunakan hukuman mati sebagai jawaban merupakan tindakan yang salah. Semestinya pelaku kejahatan diberikan kesempatan berubah dan bukan diakhiri kehidupannya. Menurut saya, hukuman mati berawal dari perasaan dendam dan ingin melenyapkan seseorang karena egonya dan bukan karena kebijaksanaan. Dan hal ini berlanjut dengan banyak orang yang menyetujui tindakan ini sehingga hukuman mati dijadikan sebuah hukum. Logikanya, pada jaman dulu manusia tidak seberadab sekarang. BIsa saja dulu ada kejadian seperti ini : A mempunyai perasaan dendam terhadap B, secara otomatis ketika perasaan ini merasuk A maka A kemungkinan besar menginginkan agar B lenyap/mati. Kemudian B melakukan kesalahan dan hal ini ramai dibicarakan. Mengetahui bahwa B melakukan kesalahan, maka A memprovokasi keadaan sehingga mengakibatkan hukuman mati(dilempari batu/dirajam pada jamannya). Maka mulai saat itu masyarakat menjadikannya sebuah adat turun temurun dan pada akhirnya menjadi hukum yang saat ini berada di jaman kita sekarang ini. Itulah mengapa Indonesia berisi kemunafikan, kebohongan, intoleransi, sementara pihak yang menjunjung tinggi kebenaran disingkirkan. Lucu bukan ? Inilah Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: