THE SHADOW STRATEGIC BEHIND BALI’s BOOM:

Written by  Deivine Signor OYZb.   

Setelah sekian lama penantian di kalangan public [setidak-tidaknya penulis], akhirnya kisah tentang pelaku bom Bali, Amrozi, yang telah dijatuhi hukuman mati pada Oktober 2005 yang lalu, terungkit kembali di media Kompas dengan judul “Eksekusi Amrozi Tergantung Grasi” [10/9/2007 hlm 3]. Kendati dalam tulisan ini memaparkan bahwa Amrozi dan kedua temannya yang lain, Imam Samudra dan Ali Gufron menolak mengajukan grasi kepada Presiden SBY. Tetapi pernahkah kita memikirkan sesuatu yang sangat dahsyat sedang merayap  di balik semua runtutan yang fenomenal dalam kasus perkara bom Bali? Setidak-tidaknya jika kita langsung menghubungkannya dengan kasus Tibo cs. Apa yang sedang terjadi?  Tibo cs dieksekusi mati pada 21 September 2006 malam. Kisah yang begitu menyedihkan setelah sekian kali PK dan grasi ditolak. Tidak ada kesempatan. Bahkan 16 nama sebagai otak kerusuhan di Poso pada bulan Mei 2000 tidak membuat pengadilan bergeming untuk meringankan hukuman selain hukuman mati dengan cara ditembak. Dan perkara pun usai sudah. Berbeda dengan Amori cs dimana eksekusi akan diadakan pada 22 Agustus 2006, jika Amrozi cs tidak mengajukan PK. Dan ternyata, sampai detik ini eksekusi terpidana mati bom Bali 1 Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron belum terlaksana. Informasi terbaru berdasarkan kompas [10/9] memberi isyarat tersirat bahwa perkara ini sengaja diulur-ulur bahkan jika ada kesempatan untuk bebas. Pada hal efek yang diakibatkan oleh bom Bali melintas batas wilayah negara Indonesia dengan jumlah korban yang lebih banyak. Yang begitu mengesankan lagi Amrozi cs ingin diperlakukan dengan cara yang beda dengan terpidana lain, yaitu dengan sesuai syariat Islam dengan dipancung. Ketua MPR Hidayat Nur Wahid justru tidak sepakat dengan permintaan Amrozi. Menurut Hidayat, proses hukum seperti yang diinginkan Amrozi tidak berlaku di Indonesia yang memang tidak menerapkan syariat Islam. Entah apapun fenomena yang terpampang dalam berbagai persidangan dan keinginan untuk berkelit, mungkinkah ada pilar [kekuatan] tersembunyi di balik semua ini? Kita memang tidak perlu berprasangka buruk. Tetapi sesuatu yang terus menerus diagung-agungkan oleh Amrozi cs sehingga tidak merasa terusik dengan teriakan para korban bom Bali, adalah sesuatu yang perlu kita si[ng]kapi. Amrozi cs berada pada garis keras yang bertindak atas “ajaran” yang mereka anggap benar. Seakan semua yang mereka lakukan memang diinginkan oleh Allah seperti yang selalu mereka slogankan dalam pekikan. Jelas bahwa kalimat ini adalah sebuah keraguan yang besar. Kenapa? Karena mereka seakan berkata bahwa apa yang mereka lakukan dibenarkan Allah atau memaksa Allah membenarkan perbuatan mereka. Begitu halus, begitu sangat benar sekilas tetapi tidak ada bukti bahwa Allah menghendaki semua itu. Di lain pihak, mungkinkah ini hanya reaksi sensasional yang terlahir dari posisi sebagai korban dan ketidakberdayaan. Jika begitu tidak salah teriakan sang ateis Nietzsche bahwa Allah telah mati. Allah dipaksa oleh manusia, Allah diciptakan oleh manusia. Allah dikebiri oleh manusia sehingga mengikuti kehendak mereka.     

Sebuah Ideologi yang Nyasar

Abad kegilaan bagi sebuah kebangkitan radikalisme sensitif mulai keluar dari cangkang kebiri yang permisif. Aksi bom bunuh diri, pembantaian reaksional, penjualan harga diri, penjajahan atas nama kedamaian, intoleransi atas nama keyakinan yang benar, perasaan sebagai manusia yang telah mati menggarisi fenomena kelam jiwa abad purba. Tetapi semua ini terlahir kembali dalam rupa yang lebih sadis yang bersolek dengan make up darah di depan cermin buram. Mereka memandang diri seakan cantik bagaikan corpse bridge dalam sebuah film fantastis yang semakin mengerikan. Jiwa purba kekristenan yang berdarah, yang melihat tiadanya keselamatan di luar kekristenan, sehingga menghabisi yang lain jika tidak beriman kristen, telah menjadi bayangan menakutkan atas adopsi paham yang ditelan mentah-mentah. Bahkan jauh sebelum kekristenan mencuatkan taring, suku-suku yang menyembah para baal memanggang setiap tubuh manusia lain di atas tiang yang menebar amis. Sungguh menakutkan bagaikan neraka berada tepat di dalam tarikan nafas. Namun, itu dulu. Semua terjadi tatkala paradigma infra-human berkuasa dan masih menjadi dunia yang bergairah buat mereka. Begitu mengherankan bahwa di abad kemajuan teknologi yang ambisius jiwa purba dengan paradigma yang ambigu menyusup dalam setiap pola pikir yang reaktif. Kisah bom Bali dengan sekian fenomena yang hampir sama dengannya, mengulang masa kelam kekristenan. Mungkinkah mereka beranggapan bahwa semua ini adalah kemajuan?  Jika para reaksinist itu menganggap bahwa semua kejadian itu sebagai sebuah kemajuan, kita akan kembali ke titik nol kematian, kisah Big Bang yang menganga. Amrozi cs begitu bangga dengan kejadian bom Bali. Namun, bagaimanapun mereka berdiri di atas ideologi pembantaian yang terlegalkan oleh ajaran yang primitif. Primitif karena tidak up to date dengan jiwa dunia. Primitif karena sebagain orang lain yang sama dengan mereka telah melihat sisi terang yang benar dan hidup dalam kebenaran. Tetapi mereka mendekam dalam liang singa dan bermimpi mereka berubah menjadi singa-singa yang dapat bertaring dan mengaum.  Sangat ironis memang bahwa orang-orang yang sesungguhnya bisa berpikir dan bertindak lebih baik menjadi brutal atas nama ideologi pembantaian. Tentu saja, jika dilihat dari sudut pandang mereka, semua ini sungguh luar biasa dan mereka sangat berjasa bagi perkembangan ideologi dan orang-orang yang yang terhipnotis olehnya.  Sebuah sisi ideologi yang brutal tersebut menyatakan bahwa mereka akan masuk surga atas semua pembantaian itu, sebagai upah atas pembunuhan yang dinamakan jihad. Tetapi jihad yang mereka maksud telah terkubur makna yang sejatinya bersama darah yang mereka tumpahkan. Entah di mana atau apakah surga yang mereka maksud. Sebab, jika surga yang mereka maksud adalah kebersatuan dengan Allah yang tidak memandang perbedaan, mereka telah salah bertindak. Jika surga yang mereka maksud adalah tempat bersatunya kebaikan maka mereka sudah menutup pintu buat diri mereka sendiri. Sebab hukum alam menyatakan sebuah kebenaran yang tidak bisa dimanipulasi bahwa setiap yang positif dan baik selalu menghasilkan yang positif dan baik. Tetapi jika kebalikannya yang terjadi maka kehancuran juga yang akan terjadi. Setiap tujuan yang baik tidak menghalalkan dan memperbolehkan cara yang maksiat. Inilah hukum tabur tuai atau yang dikenal dengan nama lain sebagai the law of cause and effect. Apa yang anda lakukan saat ini akan anda tuai suatu saat. Hukum ini sekaligus meruntuhkan semua ideologi dan cara pandang pembantaian untuk menciptakan kebaikan.  

Pelaku adalah Korban

Begitu banyak orang yang terheran-heran, tertawa bahkan mungkin berpikir sangat tidak logis bahwa ada orang yang berani mati hanya karena kekonyolan atas nama ideologi pembataian. Para pelaku berpikir bahwa mereka begitu berjasa setelah melakukan semua tindakan itu. Tetapi jika mereka mau berpikir sebagai seorang manusia yang bebas, tidak terhipnotis oleh slogan kosong, mereka akan menyadari bahwa korban pertama dari semua tindakan mereka adalah diri mereka sendiri. Mereka menjadi korban dari serigala-serigala yang berkepentingan dan berpikir sangat pragmatis. Serigala-serigala yang memoles tujuan mereka yang sesungguhnya dengan ayat-ayat ajaib seakan dengannya semua menjadi benar. Maka, reaksional sensitif sebagai hasil dari propaganda ayat-ayat manipulatif membuat orang-orang yang berpemahaman sempit menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Dan, lagi-lagi para pelaku akan terus menjadi korban kebodohannya sendiri.  Dalam sebuah seminar yang membahas buku Frans Magnis Suseno, Menalar Tuhan, di Universitas Maranatha, Bandung beberapa waktu yang lalu, terbersit di benak penulis bahwa sangat intelektual dan baik sekali tatkala kita berbicara tentang Tuhan di tataran akademis atau di antara orang-orang yang berpendidikan. Tetapi jika kita berbicara hal yang sama dengan orang-orang pinggiran atau orang-orang yang lebih memikirkan isi perut maka kemungkinan reaksi yang pasti adalah mereka menjadi bingung. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana menjadikan mereka mengerti sebagaimana orang-orang akademisi mengerti kebenaran yang sungguh [kendatipun tidak semua]. Sebab, sekali sentil saja dengan penjelasan yang salah dan ditambah dengan tujuan tertentu mereka bisa menjadi peluru yang mematikan. Dan hal inilah yang terjadi. Siapakah yang sering menjadi pelaku sekaligus korban dari semua yang telah terjadi? Tiada lain adalah mereka yang terhipnotis oleh ayat-ayat yang ajaib mematikan sekaligus tidak memiliki pemahaman yang cukup dan luas tentangnya. Sehingga tatkala serigala-serigala itu mengatakan sesuatu, dan para pelaku sudah sangat percaya, apapun pasti akan terjadi. Sangat ironis bahwa orang yang tidak memiliki pengertian yang cukup dijadikan oleh para serigala sebagai mangsa empuk untuk mewujudkan impian purba mereka. Dengan demikian, kita bisa merasakan apa yang ada di balik semua ini.  

Bayangan Pilar Tersembunyi

Sesuatu yang besar pasti ada di balik semua fenomena yang ada. Seakan yang terlihat hanyalah tangan-tangan besi tanpa kelihatan siapa tuannya. Tetapi lihat setiap fenomena yang ada. Dalam kasus bom Bali dan semua kejadian yang hampir sama dengannya adalah gambaran bahwa ideologi pembantaian atas nama kebenaran dan kedamaian sedang melahirkan kematian yang mengerikan. Pilar tersembunyi itu adalah ideologi pembantaian yang ilahikan sebagai jembatan menuju surga antah berantah. Ideologi yang mengerang dari ple-setan ayat-ayat suci Allah yang mengagumkan.  Sesuatu sedang terjadi, sesuatu yang hanya dimengerti oleh para dedemit kehancuran. Sebab bagi mereka yang benar mengenal segala hal yang tertera dalam setiap petikan ayat-ayat suci tidak akan melakukan pembantaian. Mereka yang mengenal dengan baik kebenaran dan ajalan menuju Allah telah memilih untuk memahami setiap manusia dan tidak mengambil jalan pintas untuk menghukum orang lain. Sebab siapa yang berhak menghukum orang yang tidak melakukan kebenaran? Bukan sesama ciptaan tetapi pencipta. Ibarat kita hanyalah bentara hidup yang sedang berjuang di atas papan catur. Yang berhak memindahkan dan melakukan setiap langkah adalah pencipta dan penguasa papan catur bukan bentara kecil yang tergeletak di atasnya.  Tetapi rupanya, ada yang menganggap diri berkuasa selain pencipta. Mereka melahirkan ideologi pembantaian dengan strategi mengagetkan. Mereka menyelusup di arena papan catur [dunia] dengan membuat kekacauan dan kehancuran suapaya pandangan dan seluruh perhatian teralihkan buat mereka. Semua itu dengan harapan supaya setiap yang telah mengetahui akibatnya berubah haluan menjadi manut dan ketakutan. Jika hal ini mereka lakukan terhadap orang-orang yang bermentalitas hamba dan pengecut, mereka akan mendapatkannya. Tetapi orang-orang yang melihat semua itu akan menyadari bahwa mereka telah terbenam dalam lautan kegilaan dan ideologi ayat-ayat pembantaian yang murtad. Mereka menggagahi diri mereka sendiri dan meruntuhkan kepercayaan orang lain dari diri mereka. Bagaikan mereka memiliki dua kelamin tanpa mereka sadari dan membuahi dalam rahim mereka sendiri. Mereka mengandung aib dari kekelaman pikiran dan kebodohan yang menggila. Sebuah strategi yang salah. Walau mereka menganggapnya sebagai sebuah pengabdian yang luar biasa.  Pancaran-pancaran yang menggelikan dari pilar tersembunyi terpampang dalam strategi tidak terselesaikannya kasus bom Bali. Kendati kejadian bom Bali menggelegar di seantero jagad manusia dan dikutuk sekian keturunan. Namun, terasa diulur dan dikunyah tanpa kehendak mau ditelan. Kita menunggu apakah grasi Amrozi cs terkabulkan ataukah tidak dan bagaimana tindak lanjut penyelesaian kasus ini.  Sebab terasa, entah siapapun yang akan berteriak untuk segera mengeksekusi Amrozi cs tidak ada yang mendengar dan tidak ada yang peduli. Kendati semua seakan bisu, kita pasti akan tetap berteriak, teriak tentang kebenaran kendati kerap dibungkamð                                 

Comments
2 Responses to “THE SHADOW STRATEGIC BEHIND BALI’s BOOM:”
  1. Marinus Waruwu says:

    Abad postmo ini kadang digamabarkan sebgai abad kebangiktan agam-agama seperti yang pernah terjadi pada abd eprtengahan dulu. kenapa agama bangkit? ternyata modernism mebuat hidup manusia menjadi lebih baik. disana-sini terjadi perang, dan bermacam-macam kegilaan yang membuat hidup manusia makin terpuruk.
    tapi sayang kebangkitan agam-agam di abad kita ini tidak lebih baik dibanding sebelumnya. malah disana-sini muncul fundamentalism yamg melahirkan kekerasan terhadap orang lain or golngan lain. fundamentalism melahirkan triumvalism seperti yang sekarang terjadi di negara-negara muslim. dimana boleh melegalkan kekerasan atas nama agama

    pemerintahan kita masih bertindak diskriminatif dalam penegkkan hukum. dan ini sebernya tidak mendidk. sikap ini terlihat jelas dalam kasus tibo cs, yang eksekusinya cept dibanding amrozi. semoga…

  2. Tibo-Amrozi, kasus langit-bumi. antara jelas-tidak jelas. Antagonis amburadul. Tapi itu Indonesia. Indonesia yang kabur antara jelas-tidak jelas. Antara menegak-menggilas, antara menghidup-meredup. Itu Indonesia………rasionalitas tidak berlaku, keadilan misteri, kebenaran adalah pembenaran, menghukum adalah membalas, berbuat adil adalah bertindak kejam, menerangkan adalah mengaburkan. Indonesia adalah lautan ambiguitas, horizon kekaburan segala episteme. Itu Indonesia segala menggantung-bergantung pada empunya kuasa-pengaruh. Adil bukan Indonesia. Humanis bukan Indonesia. Indonesia lain dari itu. Indonesia adalah…………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: