Penjara Egoisme dan Amarah Serta Penindas Yang Bernama “Harus”

Penulis/Peneliti : Felix Lengkong, M.A., Ph.D

“Dasar kau pelit,” teriak Cathy (bukan nama sebenarnya) ke arah suaminya. Tuduhan itu dilatarbelakangi kenyataan, Johny (bukan nama sebenarnya) tidak memberi uang makan. Sebaliknya, Johny tak kalah gertak berkata: “Dasar pemboros yang tidak pernah prihatin.” Sahut-sahutan ini merupakan bagian dari sejarah pertengkaran pasangan muda yang secara ekonomi hidup prihatin.

Pengalaman konsultasi penulis dengan pasangan suami/istri menunjukkan, pertukaran emosi negatif sering dilatarbelakangi pikiran dasar yang biasanya tersembunyi. Andaikan kedua pihak yang bertengkar dapat mendeteksi pikiran dasar itu, mereka sebenarnya gampang memahami amarah dan kebencian mereka dan mampu menyelesaikan pertengkaran. Demikian tulis Aaron Beck, M.D. pencetus Terapi Kognitif dalam bukunya Prisoners of Hate: The Cognitive Basis of Anger, Hostility, and Violence (1999).

Berpusat pada diri sendiri
Jelas bahwa Cathy dan Johny lepas kontrol. Kekerasan verbal di antara mereka berproses dalam beberapa langkah. Kenyataan — Johny tidak memberi uang — ditafsirkan Cathy sebagai penolakan untuk memenuhi kewajiban menafkahi istri. Ini selanjutnya ditafsirkan sebagai kurangnya penghargaan terhadap istri. Mengapa? Karena saat itu Cathy melihat Johny sedang merokok. Ia lalu berproses pikir: “Untuk rokoknya ia mempunyai uang, sedang untuk makanan saya tak ada uang. Lalu, siapa saya baginya? Saya bukan apa-apa!” Proses pikir ini disebut egocentricity (berpusat pada diri sendiri)

Egocentricity berlebihan kemudian memberi celah pada letupan emosi, amarah. Egocentricity Cathy berlebihan karena ia lalu membandingkan dirinya (yang tidak makan) dengan diri Johny (yang merokok). Ia berpikir, dirinya lebih kurang dihargai dan karena itu ia layak marah dan menyerang dengan tuduhan “Dasar kau pelit.”
Kemarahannya itu makin bertambah saat ia membandingkan dirinya dengan para isteri orang-orang lain yang mengalami keadaan lebih baik. Kenyataan ini menciptakan dalam diri Cathy perasaan terisolasi dari lingkungan (social isolation). Ia berpikir: “Saya diperlakukan tidak adil dan saya diperlakukan salah.”

Membaca pikiran pasangan
Dalam proses dari egocentricity ke amarah, Cathy sebenarnya melakukan sesuatu yang dalam Terapi Kognitif disebut mind reading (membaca pikiran). Ia ‘membaca’, Johny mengutamakan diri sendiri dan tidak menghargai Cathy. Ia juga ‘membaca’, Johny sengaja berlaku tidak adil dan melecehkan Cathy. Berdasarkan ‘fakta’ (mind reading) tersebut ia lalu berkesimpulan bahwa dirinya layak untuk marah dan menyerang (aggression) balik secara verbal maupun secara fisik.

Mind reading merupakan perangkat pikir yang kita butuhkan dalam proses komunikasi positif dengan pasangan kita. Masalahnya, kita sering kurang akurat membaca pikiran pasangan kita. Bacaan yang kurang akurat dan terburu-buru menghasilkan kesimpulan keliru dan emosi yang kontraproduktif (kurang pas).

Dalam kasus di atas, Cathy tidak menyadari, rokok merupakan pemberian teman, bukan dibeli dengan uang Johny. Sesungguhnya, hari itu Johny yang pengangguran itu tidak mempunyai uang.

Bingkai permusuhan
Merasa bahwa Johny telah memperlakukannya salah (dilecehkan), Cathy berkesimpulan suaminya adalah lawan alias musuh. Pikiran dasar ini melatarbelakangi ujaran dalam banyak pertengkaran suami-isteri: “Saya tidak suka kamu lagi.”

Kesimpulan bahwa pasangan itu lawan atau musuh (“Saya tidak suka kamu lagi”) merupakan interpretasi keliru yang berlebihan (catastrophic distortion) terhadap pikiran, motivasi, dan sikap pasangan. Akibatnya, kita merasa dilecehkan, marah dan benci. Perasaan-perasaan ini menyebabkan tindakan dan perilaku negatif.
Lingkaran setan ini (pikiran, emosi, dan tindakan negatif) bisa berulang terjadi dalam berbagai situasi dan masalah, karena pasangan itu telah terjebak dalam “bingkai permusuhan” alias hostile frame. Mereka bagaikan memfoto dan membingkai diri masing-masing dalam pola pikir negatif. Biasanya, mereka melihat diri sebagai “korban” dan pasangan sebagai “pelaku kejahatan”. Pembingkaian negatif (pola pikir negatif) membuat mereka keliru menginterpretasi setiap tindakan, motif, pikiran dari pasangan.

Ada dua kekeliruan utama yang sering diakibatkan bingkai permusuhan. Kekeliruan pertama adalah catastrophic distortion. Kesalahan kecil pasangan merusak seluruh citra baik pasangan lain. Misalnya, kenyataan — bahwa pada hari itu Johny tidak mempunyai uang – ditafsirkan sebagai “Johny itu tidak lain dan tak bukan adalah pelit.” Kekeliruan kedua adalah pola pikir generalisasi. Kenyataan — bahwa hari itu Johny tidak mempunyai uang – ditafsirkan sebagai Johny selalu dan selamanya tidak mempunyai uang.

Jadi, bagaimana…?
Menghadapi para konseli atau klien (lebih banyak isteri daripada suami) yang biasanya nyerocos tentang sikap dan tindakan negatif pasangannya, penulis biasanya menyela dengan pertanyaan “Lalu, bagaimana…?”
Biasanya mereka kaget dan bertanya balik “Ya, bagaimana ya, Pak?”
Penulis biasanya mengajak klien untuk menganalisa pikiran spontan (automatic thoughts) dan pikiran dasarnya sebagaimana terbersit dalam lutupan rangkaian emosi dan ujaran klien. Mereka biasanya mengakui adanya egocentricity dalam pola pikir mereka. Mereka juga menyadari, mereka sering melakukan mind reading yang keliru. Akibatnya, mereka merasa dilecehkan (tidak dianggap) dan terisolasi. Perasaan dilecehkan dan terisolasi membuat marah dan merasa berhak untuk melawan balik.

The tyranny of ‘shoulds’
So, what…? Jadi, bagaimana…? Ini pertanyaan terapotik yang dicetuskan oleh Albert Ellis pencetus terapi kognitif lain yang sekarang dinamai Rational Emotive Behavioral Therapy dalam buku Handbook of Rational-Emotive Therapy (1977). Pertanyaan ini terapotik karena mengandung upaya jalan keluar dari masalah.
Salah satu jalan keluar, Elis memberikan solusi, adalah bahwa kita harus keluar dari bayang-bayang the tyranny of ‘shoulds’. Kebiasaan kita — “mengharuskan” diri kita dan diri orang lain untuk begini atau begitu — membuat diri kita ditindas oleh penguasa (istilah Ellis tyranny of the shoulds) yang dinamai “harus”.

Dalam contoh di atas, Cathy menuntut bahwa Johny “harus” memberinya makan. Dengan memberi makan, Johny itu baik. Pemutlakan “harus” ini membuat Cathy terkungkung dan tidak lagi bisa melihat kemungkinan lain.
Apa yang terjadi pada Cathy juga berlangsung dalam diri Johny. Akibatnya, bertengkarlah mereka. So, what…? “Harus” itu baik. Tapi, tidak selalu demikian. Ada waktunya tidak harus demikian seperti seharusnya. Begitulah hidup.

Catatan Redaksi:

Saya (Postinus) adalah pembaca setia Majalah Hidup. Menurut saya, tulisan di atas sangat bermafaat dan berharga sehingga patut jika tulisan ini perlu di “simpan” agar suatu waktu bisa dibaca lagi. Jadi, jelas bahwa sumber tulisan ini adalah Majalah HIDUP; Volume : No. 32 tahun ke-61; 12 Agustus 2007.

 

Comments
2 Responses to “Penjara Egoisme dan Amarah Serta Penindas Yang Bernama “Harus””
  1. Felix Lengkong says:

    Hai redaktur Spaceline,
    program Anda bagus sekali. Keep moving on. Salam dari saya Felix Lengkong.

  2. Terimakasih Sdr Felix Lengkong…mungkin sdr jg berminat singgah di blog saya yang satu lagi http://www.deivinesignor.blogspot.com…di sana lengkapnya program itu sudah saya muat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: