FIKSI, IDE, DAN IDEOLOGI

Oleh Postinus Gulö*

Tulisan ini saya awali dengan pertanyaan: apa arti sebuah ide, seperti ide tentang Allah, ide tentang keadilan, dan ide tentang kebahagiaan? Bagi William James, ideas are not solely determined by the social conditions of their time, but also by earlier ideas, or by ideas transferred from different ideological field and different social-economic contexts”, ‘ide-ide itu tidak hanya ditentukan oleh kondisi-kondisi zamannya, tetapi oleh ide-ide sebelumnya atau ide yang berbeda dalam sosial-ekonomi dalam konteks yang berbeda-beda’.

Saya yakin bahwa ide-ide itu ditentukan oleh status atau kedudukan dan golongan sosial (terpelajar atau tidak) dari orang yang mencetuskan dan memperjuangkannya. Misalnya, ide orang kaya dengan ide orang miskin sangat berbeda. Orang kaya cenderung anti Pedagang Kaki Lima (PKL). Dengan alasan: mengakibatkan jalan macet dan bahkan mengganggu pejalan kaki. Lain halnya orang miskin. Mereka malah pro PKL. Dengan alasan, barang-barang ada di sekitar mereka, bisa dijangkau, bisa tawar-menawar. Jadi, seni berbicara dengan sendirinya terpraktekkan.

Harus diakui bahwa di balik ide ada bisnis, ada proyek politis yang cenderung mencari keuntungan. Misalnya, ide melakukan cacah jiwa semasa Kaisar Agustus di seluruh Imperium Roma. Ide itu sarat kepentingan. Kepentingan untuk menentukan jumlah populasi sehingga dengan demikian bisa ditentukan berapa upeti dan pajak yang harus dibayar ke ibu Kota Roma. Demikian juga di Indonesia. Jika orang Indonesia ke luar negeri diharuskan mengurus surat fiskal, SKKB, surat dokter. Tujuan utama bukan untuk mengamankan tetapi mencari untung.

William James mempunyai konsepsi yang luas dan fleksibel tentang ide. Menurutnya, deretan terminologi : ide, ideologi, teori, proposisi, kurang lebih sama artinya atau yang sering disebut juga family resemblance. Namun, di sini saya hanya memfokuskan pada dua kata saja: ide dan ideologi. Perbedaan antara ide dan ideologi (yang disebut juga sistem) bagi James adalah perbedaan dalam tingkat (in degree) bukan perbedaan dalam jenis (in kind). “Tingkat” yang berbeda yaitu perbedaan dalam “sistematis”. Artinya berbeda dalam tingkat keluasan komprehensif dan koherensi. An idea is an implicit system; and a system is an explicit idea”: sebuah ide adalah sebuah sistem yang masih terselubung, implisit, sedangkan suatu sistem adalah sebuah ide yang sudah eksplisit (terurai), kata James. Dengan kata lain, ide adalah gagasan yang masih kabur dan fragmentaris. Sedangkan ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu (baca: weltanschauung), sebagai akal sehat dan beberapa kecenderungan filosofis, atau sebagai serangkaian ide yang dikemukakan oleh kelas masyarakat yang dominan kepada seluruh anggota masyarakat (definisi ideologi Marxisme).

Ada dua syarat gagasan dapat disebut ideologi. Pertama, gagasan tersebut dapat dipakai sebagai sarana penyelesaian masalah hidup. Jadi, ideologi harus unik karena harus bisa memecahkan problematika kehidupan. Kedua, suatu gagasan layak disebut ideologi jika ia meliputi metode penerapan, penjagaan, dan penyebarluasan ideologi. Jadi, ideologi harus khas karena harus disebarluaskan ke luar wilayah lahirnya ideologi itu. Dengan kata lain, suatu ideologi bukan semata-mata berupa pemikiran teoretis seperti filsafat, melainkan dapat dijelmakan secara operasional dalam kehidupan sehari-hari. Dari uraian ini, ideologi adalah gagasan yang terurai secara teratur, “system is well order whole”.

William James membedakan ide dan fiksi. Bagi dia, keduanya merupakan buah pikiran manusia. Masalahnya, apa perbedaan keduanya dan di mana letak perbedaannya ? Menurut James, perbedaan antara ide dan fiksi terletak pada degree of conviction (perbedaan dari tingkat kepercayaan) kita tentang ide dan fiksi itu sendiri. Ide disebut believable; sedangkan fiksi disebut unbelievable. Sesuatu itu hanya sebuah ilusi jika kita menganggap sesuatu itu tidak bisa dipercayai. Jadi, ide itu believable for me or for people. Antara believable dan unbelievable berbeda dalam hal tindakan. Suatu ide disebut believable jika kita menjadikannya sebagai dasar bagi tindakan kita. Dan disebut fiksi jika kita tidak berani menjadikannya sebagai dasar dari suatu tindakan. Maka banyak ide yang dianggap kelompok tertentu sebagai believable tetapi bagi yang lain tidak (unbelievable).

Yang dipersoalkan oleh James adalah what is the meaning of an idea?. Misalnya, apa arti kebahagiaan. Bagi James, ide adalah plan of action (rencana tindakan) yang akan kita lakukan guna meraih atau menghindari sesuatu. Maka arti dari ide itu berbeda-beda. Ide kebahagiaan bagi hedonis berbeda bagi kaum religius. Bagi hedonis bisa saja mereka artikan bahwa kebahagiaan adalah rencana untuk memuaskan keinginan sendiri. Sedangkan bagi kaum religius, kebahagiaan adalah rencana untuk menyenangkan dan melakukan kehendak Allah. Ide tentang surga, misalnya, baik Kristen, Islam, Budha maupun Hindu berbeda dalam memaknainya. Bagi Kristen surga itu diibaratkan sebagai tempat di mana orang tidak kawin dan tidak dikawinkan. Pemahaman Islam, tentang surga adalah 1001 malam. Sedangkan Budha, memahami surga sebagai situasi pudarnya segala nafsu, dan bagi Hindu, surga adalah sunyata, nothing, lain dari apa yang kita alami.

Menurut kaum Skolastik (Tomistik), makna dari suatu ide identik dengan defenisinya. Karena itu setiap kata, ide, konsep dirumuskan dengan jelas, agar tertangkap maknanya. Contoh, apa makna dari konsep Allah ? Aristoteles dan Thomas mengatakan Allah itu actus purus (aktivitas murni). Kata actus harus dimengerti sebagai aktualisasi diri dan dikontraskan dengan potensi, kemungkinan. Actus purus artinya segala kemungkinan sudah terwujud dan tidak ada potensi yang belum terwujud padaNya, semuanya sudah terealisasi di dalam Allah. Pada Allah tidak ada kemungkinan, maka Ia adalah realitas sempurna. Semuanya sudah terungkap padanyaNya (jadi Allah perfek).

Contoh lain, Spinoza mengatakan Deus est causa sui et causa omnium (Allah menciptakan dirinya sendiri dan semua yang lain). Jadi, “makna” identik dengan defenisi, pengertian dari kata ide, konsep. Defenisi sering disebut denotasi yang dibedakan dengan konotasi. Denotasi adalah defenisi. Dengan kata lain defenisi dan denotasi adalah arti utama dan pertama (primer) dari suatu ide. Sedangkan konotasi itu adalah arti sekunder dan tambahan dari suatu ide. ***

* Postinus Gulö adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: