Human and Job’s Heart

ollyn1.jpg

   Deivine Signor

“People don’t care how much you know till they know how much you care”.

Sekilas kita melihat, kristal bercahaya dari penelitian Masaru Emoto, seorang lulusan doktorat medicine dari India. Ia membuktikan bahwa air akan berubah struktur being-nya tatkala sesuatu bersentuhan dan terbias di dalamnya. Tidak mengherankan juga dalam beberapa kejadian tradisional, air biasa bisa menyembuhkan. Ini berarti struktur terdalam dari air itu dimasuki oleh sebuah power yang mungkin saja unspeakable. Maka, karena manusia dibentuk kurang lebih 90% air, bisa dibayangkan air itu bisa membiaskan kekuatan dan juga kelemahan dari diri kita.

Tiga kekuatan manusia terletak pada pikiran, perasaan dan aksi. Ketiga hal ini membentuk piramida bercahaya jika terkonfigurasi dengan baik. Pikiran, memadukan berbagai imaji-imaji, kemungkinan dan ketidak-mungkinan untuk menghasilkan tingkat keakuratan yang mendekati pada penyelesaian suatu misi dan realita. Pikiran mensintesakan/mengerucutkan berbagai informasi yang diperoleh dan mengarahkannya pada tindakan. Perasaan, meletakkan semua hasil pikiran pada dasar yang penuh nilai. Nilai-nilai ini akan menjadi penyeleksi dan pengikir untuk menyeimbangkan arah dan rencana. Perasaan akan membentuk lingkaran kenyamanan dengan diri dan orang-orang yang ada di sekitar kita. Mencoba berbagi dengan yang lain. Tatkala pikiran telah memadukan dan perasaan mengarahkan pada nilai, yang perlu dilakukan adalah aksi. Tindakan anda sangat menentukan tingkat keberhasilan anda. Ingatlah, pikiran dan perasaan tanpa aksi bagaikan kendaraan tanpa roda. Bagaikan tubuh tanpa kaki dan tangan. Namun, tiga kekuatan ini akan sangat dipengaruhi oleh keseharian anda. Karena hidup keseharian anda menggambarkan cara anda mengolah dan mengarahkan diri anda.

Dua orang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan yang sama. Mereka berada pada posisi yang sangat baik. Setiap hari pemuda yang pertama selalu memperhatikan setiap perubahan yang terjadi dalam pekerjaannya dan tidak kembali sebelum semua kerjaan itu selesai. Namun, di tengah-tengah kesibukkan itu, ia selalu menerapkan satu hal yang menarik, mendahului menyapa orang lain. Pemuda yang kedua, juga cukup telaten dalam pekerjaannya. Tatkala kesibukkan semakin menjadi ia kerap tidak menghiraukan orang lain di sekitarnya. Suatu ketika, perusahaan terjebak dalam utang yang cukup banyak. Pemuda yang kedua itu memilih untuk pindah ke perusahaan yang lain, sedangkan pemuda yang pertama bertahan di perusahaan itu. Tidak berapa lama perusahan itu kembali bangkit dan maju.

Sangat sederhana perbedaannya. Tetapi keseharian anda menentukan sikap-sikap anda di kemudian hari. Pemuda yang kedua itu tidak memikirkan nasib orang lain selain dirinya sendiri. Karena selama bekerja, ia memang memprioritaskan pekerjaannya daripada orang-orang yang ada di sekitarnya. Maka, ia menyelamatkan diri sendiri. Pemuda yang pertama merasakan penderitaan yang sama dengan semua orang di perusahaan itu. Maka, ia pun dengan segala upaya berusaha tetap bersama mencari jalan untuk bangkit. Ia mengerti bahwa bukan hanya ia yang akan berkeinginan untuk bangkit. Inilah hati yang sungguh luhur di tempat pekerjaan. Ketika anda bergabung dengan sebuah perusahaan bukankah ia menjadi bagian dari hidup anda? Sangat ironis sekali, jika setelah anda bergabung dengan sebuah perusahaan lalu anda berpikir perusahaan itu hanyalah tempat anda bekerja. Maka, anda bekerja sesuai dengan porsi yang sudah ditentukan dan enggan untuk memberi lebih dari waktu anda.

Tempat anda bekerja bukanlah semata-mata hanya gedung atau nama yang terpampang, tetapi orang-orang yang ada di dalamnya. Mereka yang hidup di dalam sana. Seharusnya ini yang menjadi bahan pertimbangan siapapun termasuk saya dan anda. Mereka hidup dan bergerak. Tanpa orang-orang ini perusahaan bukanlah perusahaan tetapi hanya nama dan gedung. Tidak berarti apa-apa. Jika anda berpikir saya bekerja selalu ikut prosedur itu sangat baik, tetapi anda mungkin tidak pernah memberi hati dengan hal itu. Di tempat pekerjaan bukan hanya datang dan menyelesaikan pekerjaan anda. Tetapi membangun hidup bersama dengan orang lain. Bayangkan jika semua orang berpikir begitu. Apa yang akan terjadi? Tetapi bagaimana jika sebaliknya? Pemimpin pun tidak boleh seenaknya. Ia harus menyadari bahwa apa yang ia peroleh bukan karena kerjanya sendiri tetapi bersama orang lain. Atau karena sudah mendapatkan semuanya, pemimpin perusahaan akan berkata : ”mereka hanya karyawan?” sehingga akan menghasilkan kesenjangan dan gap yang tidak pernah dijembatani. Hal ini sangat tidak beralasan. Apa yang kita miliki hanyalah titipan sementara buat kita masing-masing. Dan kita harus bertanggungjawab dengan itu. Jika suatu saat semua itu hilang dari kita, bukankah anda bukan siapa-siapa lagi? Dan tidak akan ada orang yang akan melihat dan membantu anda? Bahkan anda harus ingat satu hal, di saat anda menjadi siapa-siapa pun anda tetap bukanlah siapa-siapa. Anda tidak menentukan hidup dan keberhasilan anda.

Manusia itu punya hati. Hati dalam semesta hidup. Sebab kita diciptakan bukan untuk diri sendiri tetapi untuk menjadi berkat buat orang lain yang ada dalam jangkauan hidup kita. Bagimana dengan anda?

Comments
13 Responses to “Human and Job’s Heart”
  1. Postinus Gulö says:

    Wacana yang digodok Masaru Emoto membuat manusia berpikir ber-disclosure. Mengapa? karena selama ini, manusia selalu menganggap diri sebagai manusia otonom, yang berusaha lepas dari ketergantungan pihak luar. Gagasan klasik ini ternyata dijungkirbalikkan oleh Emoto: eksterior sesungguhnya mempengaruhi interioritas. Misalnya, kata Emoto, ketika kita berkata kepada air: I Love You. Si air dengan sendirinya akan mengkristalkan diri dengan partikel-partikel yang tersusun, rapi, jernih, mempesona, menarik, indah. Pokoknya layak dicintai! Tetapi ketika kita berkata: I kill you, serentak kristal atau partikel air pecah, semraut, tidak indah, penuh gejolak layaknya orang yang sedang ketakutan, marah, tidak dicintai. Gagasan Emoto ini sebenarnya juga telah disadari oleh beberapa filsuf postmodern. Bahkan ada yang pernah mengatakan: ketika kita sedang berbicara dengan orang lain, lalu tiba-tiba kita merasa bosan mendengar ceritanya, buat kita tidak manarik (walau kita tidak terus terang kepadanya) sebenarnya lawan bicara kita akan mengerti atau bisa menangkap bahwa kita memang sedang bosan, tidak kerasan.

  2. Dekha says:

    Untuk Dei V.S. : Apakah ada tempat bagi intuisi ?

    Untuk Postinus : Apakah tidak terbalik ? Dalam arti , karena manusia menganggap diri selama ini tidak otonom maka selalu berusaha melepaskan diri !

  3. Buat Dekha, yang saya tau bahwa perasaan itu terdiri atas 3 hal: suara hati, intuisi, firasat.

  4. Dekha says:

    Dei V.S., terima kasih perhatiannya. Tetapi yang belum jelas bagi saya adalah : Apakah yang dimaksud oleh Dei V.S tentang “kekuatan” dalam kalimat “Tiga kekuatan manusia terletak pada pikiran, perasaan dan aksi” adalah “kekuatan” dalam arti “hal yang motivasi” tingkah laku manusia ?

    Saohagolo !

  5. Postinus Gulö says:

    Buat Dekha:

    Ciri manusia otonom:
    – Tidak tergantung dari pihak luar: norma, aturan (jadi ia mau melepaskan diri dari intervensi luar). Mengapa karena merasa dirinya mandiri, bisa, mampu. Dan, bahkan aturan itu harus dikritisi ulang! Salah satu tokohnya adalah Michel Foucault. Gagasannya terkenal: transgresi, pelanggaran batas, melanggar tatanan yang sudah ada (tapi penjelasan tidak sesederhana ini).
    – Bebas bereksplorasi
    – Merayakan “kebebasan”

    Sedangkan manusia tidak otonom:
    – tergantung
    – ia tidak mau lepas dari intervensi luar. Mengapa? karena norma, aturan, baginya, adalah sesuatu yang “menjamin”.

    Jadi, saya tidak bisa menangkap opini Anda (saya tulis ulang): “Apakah tidak terbalik ? Dalam arti , karena manusia menganggap diri selama ini tidak otonom maka selalu berusaha melepaskan diri !”

    Trim’s

  6. Dekha says:

    Terima kasih atas tanggapannya. Dibawah ini ada beberapa catatan.

    Kalimat Postinus : “manusia selalu menganggap diri sebagai manusia otonom, yang berusaha lepas dari ketergantungan pihak luar”
    Kalimat saya (Dekha) : “manusia menganggap diri selama ini tidak otonom maka selalu berusaha melepaskan diri”
    Coba direnungkan dari segi gramatikal mau pun segi teleologis.

    Mengenai definisi “manusia otonom dan manusia tidak otonom” dari Michel Foucault memang sudah pernah saya baca dalam bukunya “Les mots et les choses, 1966” tetapi belum memahami betul.

    Michel Foucault yang meneruskan pandangan Levy-Straus, beranggapan bahwa strukturalisme bukanlah suatu metode baru untuk berpikir, melainkan “bentuk kesadaran ilmu modern yang telah bangun dan merasa gelisah”. Selanjutnya oleh M. Foucault mengatakan kira-kira begini : Itulah sebabnya mengapa bahan dan data yang kita temukan dalam alam sekitar selalu dilanggkahi, diatasi dan diubah, pun setiap teori yang baru disusun. Mungkin dari kalimat itu terkandung makna “transgresi” seperti yang dimaksud oleh Postinus.

    Harapan supaya catatan diatas berguna untuk saling tukar pengetahuan.Dalam pada itu hendaknya kita menghindari agar hipotese dan teori dari para ahli, atau realitas sekalipun menjadikan kita mimesis. Omasido lala wangera-ngera Postinus soguna ba zato.

    Saohagolo.

  7. Postinus Gulö says:

    Sdr. Dekha terima kasih, anda sungguh menggugah keintelektualitasan saya. Jujur saja, saya kadang tak mampu memahami apa yang Anda kehendaki dan hipotesis apa di balik asumsi Anda. Oleh karena itulah saya terus terang, sungguh “doyan” memutar otak jika menjawab opini Anda (he….he…he). Hal yang tidak saya pahami itu, saya urai dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan:

    1. jika manusia tidak otonom, berarti manusia selalu bergantung dari pihak luar. Berarti manusia tidak mungkin melepaskan diri dari pihak luar. Sebab, dia memang tidak otonom. Lantas, mengapa manusia yang notabene tidak otonom (menurut Anda) justru ingin melepaskan diri dari pihak luar? Tidakkah manusia yang tidak otonom sama dengan manusia yang tidak bebas menggunakan kebebasannya? Trus, pernyataan Anda itu, tidakkah rancu baik secara gramatikal juga leksikal dan asumsi yang ada di baliknya? Dalam logika bahasa sebagaimana yang saya pelajari (dari dosen), justru asumsi yang ada di balik semua gagasan yang merupakan “fondasi” pernyataan. Nah, ketika asumsi itu dapat kita tangkap saat itulah kita mampu menginterpretasikan rangakaian kalimat (tesis, narasi).

    2. Teleologis.
    Kalau saya artikan berdasarkan bahasan saya, teleologi adalah ilmu yang menekankan begitu pentingnya pencapaian “tujuan”. Teleologi beraslah dari kata Yunani, telos: tujuan, sasaran dan logos: ilmu, yang notabene diperkenalkan pertama kali oleh Chr. Wolf (walau sebenarnya gagasan tentang teleologi sudah muncul sejak Protagoras.Bapak teleologi, Socrates, Plato, dll). Jadi, teleologis berkaitan erat dengan filsafat moral atau etika. Lawan kata dari teleologis adalah deontologis.

    Dalam etika Katolik, teleologis “tidak” diperkenankan jika agen moral yang bertindak secara per se (ansich), tindakannya mengandung kejahatan. Misalnya, saya mencuri dengan alasan untuk membantu adik saya yang sedang sakit. Dan memang nyata: adik saya sembuh setelah berobat (biaya pengotaban dari hasil curian saya tadi). Contoh ini adalah tindakan teleologis yang secara per se jahat, yakni: mencuri.

    Jadi, saya kurang tahu apa tujuan pernyataan Anda di atas yang menyinggung teleologis.

    Bahan pertimbangan dan diskursus:
    Wolf, menggunakan kata teleologis ketika ia menorehkan gagasannya tentang tujuan/penyebab akhir dalam alam. Socrates menggunakan kata teleologis ketika beliau menyatakan bahwa kosmos merupakan sebuah rancangan yang terarah kepada kebaikan manusia. Plato memakai kata teleologis ketika berbicara tentang ide kabaikan sebagai penyebab final dari semua peristiwa dan perubahan. kebaikan merupakan ide pertama yang secara teleologi membawahkan ide-ide lainnya, dst..dst…dst.

    3. Transgresi: bukan tindakan yang “melanggar” batas tanpa alasan. Transgresi dalam hal ini (berdasarkan yang saya pahami) adalah untuk merogoh sekaligus mengkritik mentalitas turun temurun. Misalnya, kita percaya bahwa pasutri hanyalah antara laki-laki dan perempuan, bukan antar sesama jenis. Alasan agama Kristen (salah satunya) adalah hukum kodrat (Kata St. Thomas Aquinas, misalnya). Nah, hukum kodrat berasal dari Allah, berati perkawinan antar laki-laki dan perempuan adalah hukum dari Allah.

    Padahal, alasan itu, tidak lain dan tak bukan adalah hanya ide yang diturunkan dari generasi ke generasi (baik melalui budaya lisan maupun budaya tulisan yang diajarkan di rumah, di sekolah, di bangku kulaih dan bahkan di lingkungan di mana manusia hidup).

    Berdasarkan hal itulah, kemudian, Michel Foucault memilih menjadi homo, eksuberant, bohemiam karena baginya belum jelas apa alasan yang pasti mengapa perkawinan yang berlainan jenis yang disahkan (walau homo juga ada yang sudah mengakuinya).

    Contoh lain: Kita mengatakan: Yesus adalah orang Yahudi dan Tuhan. Jika mau membuktikan bahwa ia orang Yahudi dan Tuhan, telitilah, jangan asal percaya, kata Foucault.

    Trim’s

  8. Dekha says:

    Kalimat Postinus : “karena selama ini, manusia selalu menganggap diri sebagai manusia otonom, yang berusaha lepas dari ketergantungan pihak luar”.

    Mari kita renungkan pelan-pelan. Dari kalimat Postinus itu tersirat bahwa manusia itu (seharusnya) tidak otonom TETAPI manusia menganggap diri otonom. Karena itu (anggapan otonom) manusia berusaha lepas dari ketergantungan. Yang saya tangkap dari pernyataan itu adalah bahwa hakekat manusia tidak bebas, tidak merdeka, tidak otonom”.

    Kalimat saya sehubungan dengan kalimat Postinus : “Apakah tidak terbalik ? Dalam arti , karena manusia menganggap diri selama ini tidak otonom maka selalu berusaha melepaskan diri”.

    Arti kata-kata jelas. Secara kalimat jelas. Tidak ada yang tersembunyi. Dari segi gramatikal pun tidak sulit untuk dimengerti. Karenanya, seharusnya juga, tidak sulit menangkap makna (tujuan) yang terkandung dalam kalimat itu. Intinya bahwa hakekat manusia adalah “bebas”. Dari segi pemahaman atau penafsiran menurut tujuan (teleologis) dari kalimat saya itu, sekali lagi tidak ada yang tersembunyi. Tujuan dalam hal ini “jelas” yaitu materi yang didiskusikan.

    Jadi sebenarnya tanggapan terhadap pertanyaan dan pernyataan saya itu hanya penegasan bahwa : seperti itulah pendapat Postinus. Sesuai prinsip “kebebasan” berpendapat, apalagi kalau dengan argumen yang jelas, tidak ada alasan untuk ditolak. Namun, kita tentu kita mengharapkan diskusi yang terarah.

    Definisi-definisi dari para ahli tertentu hanya sebagai pembanding dan atau penegasan. Pendapat mereka banyak yang baik tetapi meskipun demikian kita tidak harus setuju pada pendapat itu.

    Mengenai “teleologis”, konteks kalimat saya jelas sebagai salah satu cara penafsiran. Karena itu tidak perlu terlalu jauh sampai pada “The means justify the end”. Sederhana sajalah. Yang bukan filosofis jangan difilosofiskan. “Transgresi” pun , dalam kesempatan ini, juga tidak memerlukan penjelasan yang panjang lebar.

    Saohagolo

    Yaahowu.

  9. Postinus Gulö says:

    Ya’ahowu Sdr. Dekha

    Sebenarnya tidak ada yang perlu diperdebatkan. Saya bisa menangkap bahwa Anda mempermasalahkan kata “seharusnya” dan kata “anggapan”. Sehingga dari kesimpulan itu, Anda menyimpulkan bahwa pernyataan saya adalah terbalik? oke. Bahkan Anda juga bisa menangkap bahwa dalam kalimat itu, tersirat bahwa manusia pada dasarnya tidaklah otonom (dalam arti putus total dengan intervensi luar. Tidak ada manusia seperti ini).

    Perhatikan contoh berikut:
    1. Iwan ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Iapun “merasa” terkekang. Oleh karena itu, ia berusaha kabur dari penjara (analogi pernyataan saya di atas).
    2. Iwan ditangkap polisi dan dimasukkan ke penjara. Tetapi ia tidak “merasa” (tidak menganggap diri) dikekang. Oleh karena itu, ia tidak beruasaha kabur dari penjara (seharusnya semacam inilah kalimat Anda itu!).

    Analogi kalimat Anda (di atas) kan seperti ini: Iwan ditangkap polisi dan dimasukkan ke penjara. Tetapi ia tidak “merasa” dikekang. Oleh karena itu, ia berusaha kabur dari penjara. Kenapa ia beruasaha kabur, toh ia tidak merasa dikekang kok. Jadi, dalam kalimat Anda di atas terdapat pernyataan contradictio interminis.

    Pertanyaan saya, jika manusia “tidak” menganggap diri otonom apakah ia berusaha melepaskan diri dari intervensi luar? Rasanya tidak. Nah justru karena manusia “menganggap diri otonom” (sebagaimana yang saya maksud) maka manusia “berusaha melepaskan diri dari pihak luar”. Jadi, tidak ada masalah, kan?!……Lalu terbaliknya di mana???????

    Lalu, dimensi teleologisnya di mana? setahu saya, arti teleologis awalnya berkaitan erat dengan masalah kosmologis dan juga antropologi (filsafat manusia, yang kemudian dikembangkan ke etika medis seperti sekarang ini). Bukan masalah “bahasa”!!!!

    Sdr. Dekha, saya sangat senang bertukar pikiran dengan Anda. Kalau boleh kita saling memperkaya, lewat tanggapan atau komentar semacam ini. Terus terang saya mengharapkan ada partner tukar pikiran dan teman berargumen (tapi bukan hanya sekedar kritik-dekonstruktif tapi sekaligus rekonstruktif).

    Trim’s

  10. Dekha says:

    Memang saya katakan bahwa sebenarnya tidak perlu melebar sana sini. Jawaban pendek adalah : itu pendapat saya. Titik. Jadi argumentasi yang melebar dari pendapat ahili yang bermacam-macam hanya dibutuhkan untuk pertimbangan atau penegasan kalau memang sependapat dengan dia. Jelaskan dulu pendapat kita. Kita hargai pendapat-pendapat mereka tetapi pendapat itu tidak mengikat kita. Sebab kalau demikian, menimbulkan rasa inferior atau rendah diri. Bahwa mereka lebih pintar dari kita, dan seterus dan setrusnya. Intinya menghindari mimesis.

    Mengenai “teleologis” sebagai salah satu cara penafsiran, saya tidak perlu jelaskan tetapi coba iseng-iseng tanya pada orang yang bergumul dengan bahasa atau hukum.

    Sebenarnya saya juga ingin terus bertukar pikiran dengan Postinus, terutama karena Postinus mau mengambil skripsi dengan bahan Pulau Nias, akan tetapi saya urungkan. Sebabnya adalah : Postinus rasa-rasanya seperti “sesak” waktu menulis tanggapan ini. Coba lihat penyebutan/penulisan diri saya (Dekha). Pada awal ditulis dengan “Dekha”, kemudian “Anda” (A huruf besar), ehhhh…… terakhir ditulis dengan ” kamu” – lihat pada : “Analogi kalimat kamu (diatas) kan ….”. Ini menunjukkan bahwa Postinus sedang stres. Mungkin sedang menghadapi ujian yaaaa! Jadi tidak saya menyambung lagi.

    Y’ahowu.

    Saohagolo

  11. Postinus Gulö says:

    Sdr. Dekha, ya’ahowu

    Roland Barthes dalam “The Death of Author”, pernah mengklaim bahwa tulisan atau gagasan seorang penulis akan ditafsir bermacam-macam oleh sipembaca (entah itu keluar konteks/reduksi atau justru mengembangkan). Dan si penulis tentu tak mampu mengontrol sipembaca itu. Oleh karena itulah Barthes berkesimpulan: sipenulis sama saja telah mati!
    Jadi, jika Sdr. Dekha mengklaim bahwa saya lagi “sesak” ketika menulis komentar saya di atas, tidaklah salah dalam tataran hipotesis.
    Ya’ahwu

  12. Sungguh! saya bangga sekali membaca perdebatan antara sdr. Dekha dan sdr. Postinus…benar-benar seru deh!

    Yang menarik bagi saya adalah pernyataan sdr. Dekha:
    ” Pada awal ditulis “Dekha”, kemudian anda (A huruf besar), ehhh…terakhir ditulis dengan “kamu”- lihat pada : “Analogi kalimat kamu (diatas) kan..”.ini menunjukan sdr. Postinus sedang stres”.

    Bukannya saya membela sdr. Postinus. tapi saya menangkap bahwa pernyataan sdr Dekha diatas seperti pernyataan orang-orang yang sedang dalam ketakutan luar biasa, sedang khawatir, sedang menghadapi masalah besar dan tidak punya ide lagi harus bagaimana…pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sdr. Dekha masih belum dewasa…karena itu, ketika dalam situasi sulit, sdr. Dekha selalu mengalihkan pokok permasalahan…
    memang saya mengakui bahwa argumen-argumen sdr. Dekha “baik”. tapi menurut saya masih ada yang kurang bang…

    Yaahowu…

  13. yaahowu fefu says:

    saya masih ingat waktu kecil saya sering berdebat dengan teman-teman sepermainan. yang paling saya sesali pada perdebatan itu ialah saya merasa rugi berdebat karena tidak memberikan hasil-apa-apa pada hidup saya selanjutnya, kecuali saya merasa puas karena lawan debat saya kalah. tapi sebetulnya saya tidak menang berdebat, kepuasan saya semu, tak ada manfaat.
    Setelah saya besar, saya ingin berdebat juga tetapi yang bernilai, menambah wawasan, dan yang penting berdaya guna bagi hidupku.

    Ahhh….seandainya ya…saya mempunyai sahabat dan kami ‘berdebat’ tentang bagaimana saya bertumbuh dan dia berkembang…. perdebatan itu pasti sangat bermutu…. karena kami tidak sedang bertanding tetapi kami mencari ‘pencerahan’.
    Itulah perdebatan yang baik menurut saya……

    salam

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: