Impossible is Nothing

Deivine Signor

 

Suatu saat ada seorang remaja yang akan menjalani ujian test kemampuan. Jika ia berhasil dalam test itu, ia akan langsung diterima di suatu sekolah yang sangat bergengsi. Namun, ia mulai ketakutan untuk menghadapi test itu. Ia berkata dalam dirinya: “ga mungkin qw bisa menghadapi dan lulus dari test ini ”. Kemudian, ia memang semakin ketakutan dan semakin tidak percaya diri untuk menghadapi test itu. Namun, kemudian ia bertemu dengan tidak sengaja seorang ibu yang sedang hamil tua yang sedang bercerita dengan temannya. ”Aku membayangkan sebuah kebahagiaan menjadi seorang ibu. Dan aku tidak pernah membayangkan bagaimana keadaan menjadi ibu hamil seperti ini. Semua menakutkan buat saya. Sepertinya aku mau lari saja dan tidak mau hamil. Namun, ketika aku harus mengandung, ketakutan itu hilang. Yang aku rasa adalah kebahagiaan penuh menjadi seorang ibu. Karena di sana tersimpan suatu keinginan untuk menjadi yang terbaik bagi orang-orang yang aku cintai. Tentunya,nanti kalau melahirkan pun aku pasti ketakutan setengah mati, bagaimana rasanya? Tapi, aku tetap ingin mempersembahkan yang terbaik. Dan aku tahu, aku pasti bisa menjadi yang terbaik. Mendengar cerita sekilas itu, remaja itu akhirnya berkata dalam hati ”aku ingin menjadi yang terbaik dan akan melakukan yang terbaik. Aku tahu aku sangat takut namun ada kebahagiaan setelah semuanya ini”. Ia pun berlalu sambil tersenyum.

Kerap kita mengalami hal yang sama. Berkata pada diri sendiri bahwa kita tidak bisa melakukan sesuatu. Tepatnya kita takut untuk menghadapi sesuatu. Kita inginnya yang mudah-mudah saja. Tapi ada orang mengatakan ”laut yang tenang tidak menghasilkan pelaut yang ulung”. Ketangguhan seseorang selalu dihitung dari setiap hal yang dihadapinya. Semakin sedikit kita berhadapan dengan hal-hal maka semakin sedikit juga wawasan kita, daya juang, daya tahan, kecepatan berkreasi, kecepatan menemukan jalan keluar. Singkatnya, kita menjadi sangat rentan terhadap banyak hal. Kita seperti seseorang yang sedikit saja kena sesuatu langsung tepar dan tidak bisa berbuat apa-apa. Inilah orang yang rentan. Ketika ada hal yang membingungkan kita, kita pun kehilangan arah. Kita menjadi buta. Selain karena kita itu selalu ingin yang mudah-mudah saja, ada satu hal lain yang mempengaruhi hal ini. Kita tidak punya persiapan. Sangat sederhana. Lihatlah, orang-orang yang tidak memiliki persiapan apapun, mereka akan berusaha agar suatu hal itu tidak mereka hadapi. Dan walaupun mereka akan tampil, lihat hasil yang akan mereka dapatkan.

Ketakutan dan ketidak-adanya persiapan ini akan raib dari hadapan kita tatkala kita mau melakukan sesuatu yang sangat tepat. Impossible is nothing. Tepatnya kitalah yang mengatakan pada diri kita sendiri bahwa kita tidak mampu dan ”bukan” hal yang kita hadapi itu. Hal yang kita hadapi itu sendiri akan selalu seperti apa adanya. Mungkin hanya akan bergeser dalam skala ruang dan waktu. Yang lebih penting adalah bagaimana menghadapinya. Ada orang berkata, suatu kejadian menjadi suatu pengalaman bukan karena kejadian itu sendiri, tetapi cara kita menangani suatu kejadian. Saya teringat akan sebuah lelucon yang sangat tidak lucu dari salah seorang dosen saya dulu. Ia bertanya: ”kalian mau nilai kalian bagus?” Lalu ia melanjutkan ”yah, belajar lebih baik lagi!” pada waktu itu, kami berpikir dia akan merubah atau menambah nilai kami, tetapi yang terjadi justru yang tidak kami harapkan.

Ketidak-mungkinan itu tidak ada. Yang ada adalah bahwa kita berpikir bahwa suatu hal tidak mungkin. Dan itu yang semakin mengurung diri kita dalam labirin kelemahan kita sendiri. Bayangkan saja, jika ada orang yang bisa berjalan di atas air. Buat kita mungkin tidak mungkin. Tapi apakah benar tidak mungkin? Ketidak-mungkinan lagi-lagi adalah buatan kita sendiri. Ketika kita mau melakukan sesuatu dengan sepenuh hati dan selalu berfokus pada hal yang terbaik, kita pasti bisa melakukan apapun. Saya ingat sebuah film yang sangat bagus sekali, Facing the Giants, sebuah film yang menampilkan sebuah kelompok football yang sudah pasrah dengan keadaan. Mereka berkata satu sama lain bahwa mereka tidak mungkin memenangkan pertandingan berhadapan dengan kelompok yang sangat kuat. Bahkan di antara mereka terjadi saling mengejek dan menyalahkan. Sang pelatih pun putus asa. Namun, suatu saat ia tersadar akan sesuatu yang harus mereka lakukan. Ia baru menyadari bahwa selama ini teamnya tidak pernah mengeluarkan usaha yang sangat maksimal yang terbaik yang mereka punyai. Dan, tatkala naga yang diam itu dibangunkan, apa yang terjadi? Kelompok ini memenangkan pertandingan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Tentu di dalamnya ada sesuatu yang sangat penting, usaha yang maksimal itu harus selalu disertai dengan keyakinan.

Bagaimana dengan anda? Apakah anda masih akan berkata bahwa suatu hal – atau entah apapun – masih tidak mungkin? Ingat, ketidak-mungkinan lagi-lagi hanyalah ketakutan kita dan yang kita rajut sendiri. Lalu apakah anda mau dikuasai oleh ketakutan dan ketidakmampuan ini? Saya yakin, kita masing-masing mempunyai banyak kemampuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: