Kehadiran Sesama

Deivine Signor

 

Beberapa abad yang lalu, ada sebuah kisah yang ditemukan di antara tumpukkan kumul karya seorang ternama. Alkisah, ada 7 orang kaum eremit mengadakan sebuah perjalanan di padang gurun dengan memanggul salib masing-masing yang terbuat dari kayu. Mereka memulai perjalanan itu di pagi hari. Hari semakin siang dan semakin terik. Dan tiba-tiba, salah seorang di antara mereka mulai mengeluh. Ia semakin tidak kuat memanggul salibnya. Kemudian ia berdoa:”Tuhan izinkanlah saya memotong sedikit salib ini biar tidak terlalu berat”. Kemudian ia pun memotongnya. Tidak berapa lama kemudian, ia semakin merasakan salib itu semakin berat saja. Dan ia pun berdoa lagi dan kemudian memotong salib itu sehingga semakin pendek. Untuk yang ketiga kali ia mengulanginya lagi. Dan sekarang salibnya sungguh pendek dan sangat ringan. Ia bersorak dalam hati. Tiba-tiba di depan mereka terbentang sebuah jurang yang dalam dan cukup lebar. Tiada jalan yang lain kecuali mereka harus melewati jurang itu. Teman-temannya yang lain mulai membentangkan salib mereka sebagai jembatan untuk sampai ke seberang. Sedangkan ia,… tiba-tiba menangis karena salibnya yang begitu pendek dan tidak bisa menyeberangkannya. Ia putus asa. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tiba-tiba ada salah seorang temannya berteriak: ”kamu lewat di sini saja, pakai salib saya sebagai jembatanmu supaya bisa menyeberang”. Ia pun buru-buru lewat sambil terus membawa salibnya.

Saudaraku, siapakah sesamaku manusia? Mereka adalah orang-orang yang tertawa di saat aku bahagia. Mereka yang menyapaku saat aku begitu ceria. Mereka yang hadir di saat aku mengadakan pesta. Ya, mereka adalah sesamaku. Namun, sering mereka menghilang saat aku mengalami musibah, saat aku sendirian, saat aku menangis, saat tidak ada yang peduli.

Sesamaku manusia adalah mereka yang selalu menemani saat aku terpuruk. Saat aku kehilangan arah. Saat aku tidak bisa berbuat apa-apa. Walau hanya sekedar diam menemani tanpa berbuat banyak.

Sesamaku manusia adalah mereka yang terluka namun tetap mencoba berbagi. Mereka yang dihianati namun tetap melakukan yang terbaik. Mereka yang tidak diharapkan dan sering tidak diacuhkan namun tetap ada di sekitar kita. Ya, mereka adalah sesamaku manusia.

Dan jika kita ingin disebut juga sebagai sesamaku manusia, kita seharusnya melakukan hal yang sama. Apa yang kita inginkan orang lain perbuat kepada kita, lakukanlah itu kepada orang lain. Walau seandainya menambah beban salib kita. Karena kita harus menyadari satu hal, tidak ada orang yang bahagia yang tidak pernah mengalami kesedihan. Tetapi mereka tidak pernah berhenti untuk bangkit dan mencoba berbagi untuk orang lain.

Allah memberikan yang terbaik dalam diri kita masing-masing. Berbagai macam talenta. Dan hendaknya yang terbaik itu kita pergunakan untuk menerangi orang lain. Sebab, sesuatu yang terbaik itu bukannya justru ditempatkan di bawah gantang atau disembunyikan melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Untuk menerangi dan membantu sesama. Sekaligus inilah tugas kita masing-masing. Allah menciptakan kita dengan kelimpahan supaya kelimpahan yang dipercayakan pada diri kita masing-masing kita bagikan kepada yang lain. Di saat itu, tangan Allah hadir secara nyata lewat tangan kita. Cinta Allah hadir lewat perhatian kita, walau sekedar senyum dan sapaan secara sederhana dan nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: