T I B O – A M R O Z I
SeptemberUTCbSat, 15 Sep 2007 15:08:16 +0000000000pmSat, 15 Sep 2007 15:08:16 +000007 15, 2007 at 11:28 | In Idea | 5 CommentsOleh Postinus Gulö
Tibo-Amrozi, dua sosok berbeda. Saya tidak kenal Tibo pun Amrozi. Saya hanya mendengar siapa mereka lewat media elektronik dan surat kabar. Mereka berdua (ter/di) benamkan dalam peristiwa mengerikan. Hanya saja Tibo adalah orang tertuduh. Amrozi adalah pelaku benaran. Tibo dituduh dalam kerusuhan Poso. Amrozi dalang pengemboman Bali, bukan sebagai tertuduh. Tibo berjasa menyelamatkan penghuni asrama saat kerusuhan terjadi. Amrozi malah bergembira ria saat Bom Bali terjadi. Tibo menyebut-nyebut 16 orang yang berada di balik kerusuhan Poso tapi tidak ditanggapi. Tibo dijatuhi hukuman mati. Tibo sedih. Dari raut mukanya tanda “pertobatan” tersirat. Wajahnya berbinar seolah tak kuasa menerima hukuman itu. Tibo menangis. Ia menunggu ambang ajal. Tetapi ada niat, Tibo mengajukan peninjauan kembali juga grasi tapi ditolak. Tibo mengaku bukan dia pelaku kerusuhan Poso. Memang, Tibo ada di tempat kejadian kerusuhan. Tapi bukan sebagai penghasut namun mau menyelamatkan orang-orang yang menjadi objek amuk massa. Suatu misi luar biasa dan heroik! Tapi 21 September Tibo cs ditembak mati. Dunia pun berlinang air mata. Lantas banyak yang bertanya, dimanakah keadilan dan kebenaran?
Amrozi tak pernah mengaku bahwa saat kejadian Bom Bali ia berada di sana untuk menyelamatkan orang. Sebaliknya, ia bergirang ria sambil berseru, Allahu Akbar! Bukti ia puas dengan kejadian berdarah itu. Amrozi dijatuhi hukuman mati. Ia malah bergirang. Seolah hukuman itu adalah tiket menjadi martir, pahlawan sejati. Ia mengajukan grasi agar dipancung saja. Bukan grasi agar ditinjau ulang! Tapi aneh, sampai detik ini belum kunjung dihukum mati, entah dipancung atau ditembak.
Tibo-Amrozi adalah simbol dualisme: hitam putih, terang buram, adil-tidak adil, benar-salah (saya tidak berani menyebut merah-putih karena itu lambang bendera Indonesia!). Tibo adalah sosok “terang” yang diburamkan. Amrozi adalah sosok buram yang “di-terang-kan”. Tidak lebih dari itu. Indonesia memang seperti itu. Itu real. Dan, Indonesia bangga dengan itu. Memang saya tidak kenal Indonesia. Saya hanya sadar bahwa saya orang Indonesia. Saya hanya tahu bahwa, dalam kasus ini, Indonesia sesungguhnya bukan milik Tibo tapi milik Amrozi. Indonesia adalah para hakim dan jaksa serta orang berpengaruh lainnya yang pro Amrozi. Itu Indonesia yang saya maksud. “Indonesia” itu pun saya tidak kenal siapa mereka.
Memang, ada hipotesis bahwa jika Amrozi ditembak mati, ia bangga bahwa ia nabi dan martir. Kelompoknya bukan makin takut melainkan makin bergeming-bergirang. Suatu hipotesis bukan sebagai tesis. Tapi dasar Indonesia, hipotesis adalah tesis, tuduhan adalah dakwaan. Sama halnya yang diberlakukan terhadap Tibo. Ia tidak mengaku sebagai dalang kasus Poso. Dan, memang begitu. Tapi ia tetap dihukum mati. Di Indonesia bumi menjadi langit, langit menjadi bumi. Di Indonesia, kepala menjadi kaki (dan ekor.) Di Indonesia, keadilan adalah ketidakadilan, kebenaran adalah pembenaran, menghukum adalah membalas. Di Indonesia yang jelas diburamkan, yang buram dianggap jelas. Di Indonesia, yang lemah ditindas, yang kuat dihormati, yang bermulut besar akan menang.
Dalam kasus Tibo-Amrozi membuktikan Indonesia cacat. Indonesia sejatinya buta keadilan, buta hukum, buta kebenaran, buta etika, buta agama, buta kebaikan. Dalam kasus Tibo-Amrozi membuktikan Indonesia tidak normal. Indonesia tak punya hati, tak punya mata, tak punya telinga, tak punya otak. Dalam kasus Tibo-Amrozi……..(bisa diisi sendiri!). Dalam kasus Tibo Indonesia hanya punya palu untuk menghukum, hanya punya lidah untuk membelokkan fakta menjadi fiksi dan fiksi menjadi fakta. Indonesia tidak punya otak untuk berpikir, tak punya mata untuk melihat, tak punya telinga untuk mendengar, tak punya hukum demi keadilan. Apakah ini Indonesia?
Ternyata, dalam kasus Tibo-Amrozi, Indonesia bukan Negara hukum yang menjunjung tinggi keadilan, bukan Negara beragama. Dalam kasus Tibo, hukum Indonesia adalah hukum rimba, hukum sesuka penguasa.
Banyak kalangan tahu bahwa Tibo bukan dalang kasus Poso. Banyak kalangan tahu bahwa Tibo tidak sebejat yang dituduhkan. Banyak kalangan yang menolak hukuman Tibo. Mereka protes. Mereka tidak rela Tibo menjadi korban kambing hitam. Kasus Amrozi berbeda. Banyak kalangan tahu bahwa Amrozi pelaku Bom Bali. Banyak kalangan mengutuk tindakan Amrozi itu. Tetapi ada yang menarik. Hukuman Tibo-Amrozi ditentang Vatikan. Itu seharusnya, yang punya hati!
Dalam kasus Tibo-Amrozi, secara politis, Indonesia tercoreng di mata masyarakat internasional. Tetapi Indonesia tak peduli. Indonesia tidak gentar, maju terus.
Sesungguhnya Indonesia bukan seperti dalam kasus Tibo-Amrozi. Indonesia adalah Negara yang memiliki hukum. Indonesia memiliki dasar Negara. Indonesia bukan milik Amrozi dan konco-konconya. Indonesia milik Tibo dan milik masyarakat Indonesia. Maka, kita sama di depan hukum. Itu idealnya. Itu yang tertulis dalam UUD Indonesia. Soekarno, sebagai salah seorang founding fathers bangsa Indonesia mendengungkan hal itu: Indonesia bukan milik kelompok tertentu. Indonesia adalah milik semua masyarakat Indonesia. Titik.
Postinus Gulö adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unpar, Bandung
5 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.



Ada banyak hal yang menarik dari tulisan mengenai Tibo-Amrozi ini. Sebuah dualitas ambigu dimana satu di antaranya mengaku superior dari yang lain. Sehingga kerap yang namanya negara hukum selalu diarahkan pada hukum satu pihak. Maka, ple-setan ini semakin memuncak tatkala Mahkamah Agung pun belum memastikan tanggal eksekusi Amrozi. Saya sendiri berpendapat, tidak mungkin eksekusi itu diadakan di bulan puasa sebab semua orang takut berdosa. Alih-alih, eksekusi, hukum bagaikan bola yang bisa ditendang kesana-kemari oleh faktor superioritas, faktor agama mayoritas yang bergaung lewat Allahu Akbar-nya Amrozi. Ini kenyataan dan bukan asumsi belaka.
Comment by Deivine Signor — SeptemberUTCbSun, 16 Sep 2007 04:14:21 +0000000000amSun, 16 Sep 2007 04:14:21 +000007 15, 2007 #
Yapz…benar…sy setuju karna keadiLan mmg masih mahaL untuk dijangkau oLeh orang atau keLOmpok tertentu…
Comment by eStHer — SeptemberUTCbWed, 03 Sep 2008 23:55:25 +0000000000pmWed, 03 Sep 2008 23:55:25 +000008 15, 2007 #
Memang benar …. itulah Indonesia, Indonesia yang tidak mengenal Cinta Kasih, Indonesia yang para pemimpin katanya beradab namun biadab, Indonesia sarang penyamun & teroris yang menilai seseorang kafir bila tdk sefaham dengan Dia yang patut untuk disingkirkan.
OLEH KARENA NAMAKU KAMU AKAN DIBENCI SEMUA ORANG
YA TUHAN AMPUNILAH MAREKA KARENA MAREKA TIDAK TAHU APA YANG SEDANG MAREKA PERBUAT.
Comment by xXx — OctoberUTCbMon, 13 Oct 2008 17:47:48 +0000000000pmMon, 13 Oct 2008 17:47:48 +000008 15, 2007 #
Just wanted to tell you all know how much I appreciate your postings guys.
Found you though google!
Comment by bloonsterific — JulyUTCbFri, 10 Jul 2009 10:15:57 +0000000000amFri, 10 Jul 2009 10:15:57 +000009 15, 2007 #
Bertobatlah dan kembali ke jalan yang benar.
Comment by 5inar — NovemberUTCbFri, 20 Nov 2009 05:00:18 +0000000000amFri, 20 Nov 2009 05:00:18 +000009 15, 2007 #