Allah Menurut Spinoza dan Hegel: Suatu Tinjauan Filosofis atas Panorama Metafisika

Oleh: Blasius Baene

 

Catatan Redaksi: Judul asli tulisan ini adalah “Allah Dalam Metafisika Teologi Menurut Baruch de Spinoza dan Hegel: Suatu Tinjauan Filosofis atas Panorama Metafisika”. Judul di atas redaktur ubah karena jumlah huruf “title” ternyata terbatas. Tulisan ini sangat ilmiah dan patut dijadikan bahan refleksi serta referensi tulisan ilmiah. Seperti kita tahu, Spinoza adalah filsuf yang sering disebut sebagai penganut aliran Panteisme, sedangkan Hegel adalah penganut filsafat Roh. Bagi Hegel, realitas dunia adalah “Roh”. Selamat membaca!

1. Pendahuluan

Salah satu bidang penjelajahan metafisika (ontologi) adalah pengembaraan terhadap akal budi manusia untuk mencari dasar-dasar realitas. Pencarian terhadap dasar-dasar realitas tersebut dapat dijumpai dalam suatu pemahaman yang rasional dengan menggambarkan Ada sebagai realitas murni. Pemahaman terhadap Ada dalam metafisika teologi, bukan suatu ada sebagaimana kita jumpai dalam pengalaman hidup kita sehari-hari. Misalnya: ada dua pulpen, ada orang yang lewat di depan rumah, atau ada empat ekor anak anjing yang baru lahir, dan lain sebagainya. Ada itu juga bukan sesuatu yang dapat diraba, dipegang, dilihat, dan disentuh oleh manusia. Tetapi, pemahaman terhadap Ada yang dimaksud dalam metafisika teologi adalah sebuah pemahaman terhadap “realitas murni.” Realitas murni itulah yang disebut “itu” sebagai yang Absolut, tidak dapat dibagi-bagi atau dikelompokkan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa Ada itu adalah “itu” yang utuh, tunggal, satu, dan sempurna. Oleh karena itu, Aristoteles menyebutnya sebagai actus purus, motor immobilis, causa prima non causata, dan lain sebagainya.

Pemahaman terhadap Ada sebagai realitas Yang Absolut melalui penjelajahan akal budi manusia, khususnya dalam metafisika teologi dapat kita jumpai dalam beberapa pandangan para filosof terkemuka, seperti dalam gagasan-gagasan Baruch de Spinoza dan Hegel. Dengan gaya berpikir yang cemerlang, kedua filosof ini (Spinoza dan Hegel) mencoba menguraikan siapakah Allah itu. Apakah ada pemahaman lain yang lebih orisinil untuk mengetahui identitas sang causa prima non causata itu? Spinoza dan Hegel mencoba memecahkan persoalan ini. Spinoza melihat bahwa realitas Yang Absolut itu adalah Substansi. Sebaliknya, Hegel mendasarkan filsfatnya pada Roh Mutlak sebagai itu Dia Yang Absolut atau Allah. Bagaimana kedua filsuf ini memahami Substansi dan Roh Mutlak sebagai realitas Yang Absolut, coba saya uraikan di bawah ini.

2. Pengertian Panorama Metafisika

Apa itu panorama? Panorama diartikan sebagai pemandangan alam yang bebas dan luas (KBBI, 2003:825). Disebut sebagai pemandangan yang bebas dan luas, karena dalam mengamati sesuatu, sesuatu itu tidak dipandang secara partikular, melainkan dipandang secara menyeluruh tanpa ada pengklasifikasian terhadap realitas itu sendiri. Dalam kaitannya terhadap panorama filsafat, itu berarti filsafat dilihat atau dipandang secara menyeluruh dan bukan sebagian atau partikular saja. Misalnya: pemahaman terhadap filsafat Yunani Awali (Ancient Greek) sampai ke postmodernisme. Pemahaman ini sangat penting untuk melihat berbagai realitas yang terjadi dalam periode perkembangan filsafat secara menyeluruh.

Panorama metafisika teologi melukiskan suatu penjelajahan akal budi manusia yang tidak pernah berhenti pada suatu pemahaman terhadap pengertian Ada secara partikular, melainkan metafisika teologi memahami Ada secara menyeluruh bahkan berlanjut pada pemahaman akan eksistensi Allah1 sebagai realitas Yang Absolut atau dalam bahasa Aristoteles disebut sebagai itu Dia causa prima non causata. Panorama metafisika sebagai pengembaraan akal budi manusia tidak pernah kunjung selesai melainkan mengalami suatu pemahaman yang berkembang secara terus menerus. Jadi, panorama metafisika teologi adalah suatu pemahaman terhadap realitas Ada yang terus menerus dibingkai dalam suatu pemahaman secara menyeluruh dan bukan secara partikular.

2.1. Riwayat Hidup Spinoza

Baruch de Spinoza lahir di Amsterdam pada tahun 1632 dari sebuah keluarga Yahudi yang melarikan diri dari Portugal, karena pada saat itu orang Yahudi dipaksa untuk menjadi penganut agama Katolik.2 Gagasan-gagasan Spinoza banyak dipengaruhi oleh pemikiran Descartes terutama pemikiran terhadap Substansi yang pada akhirnya disebut oleh Spinoza sebagai realitas Aboslut.

Perkembangan pemikiran Spinoza yang semakin brilian dalam bidang filsafat, membuat para tokoh agama Yahudi merasa gelisah dan cemas, karena ajaran-ajaran Spinoza dianggap tidak ortodoks.3 Akibatnya, pada tahun 1656 Spinoza dikucilkan dari Sinagoga di Amsterdam. Setelah keluar dari Sinagoga, Spinoza mengalami suatu perubahan dalam hidupnya dan pada saat itulah dia mengganti namanya menjadi Benedictus de Spinoza sebagai tanda kehidupan barunya. Pada tahun 1677 Spinoza meninggal di Den Haag.

2.1.1. Gagasan Spinoza Terhadap Substansi

Salah satu gagasan yang diajukan oleh Spinoza dalam memahami realitas Yang absolut adalah Substansi Tak Terhingga atau Allah.4 Gagasan-gagasan Spinoza dalam mengungkap realitas yang Absolut ini, ia banyak dipengaruhi oleh rasionalisme Descartes. Namun, pengaruh Descartes yang telah membentuk pola pemikirannya, tidak semuanya diamini dengan baik oleh Spinoza terutama dalam memahami Substansi sebagai realitas murni yang Absolut. Dalam memahami Substansi, Descartes melihat bahwa Substansi itu merupakan suatu realitas yang tidak membutuhkan sesuatu yang lain.5 Dengan kata lain, Descartes melihat Allah sebagai Substansi yang tidak membutuhkan yang lain untuk berada. Tetapi, disamping Substansi sebagai realitas Absolut, Descartes menerima substansi yang lain kendatipun substansi yang dimaksud tidak berlaku secara Absolut melainkan relatif.

Berkaitan dengan Substansi yang diajukan oleh Descartes, Spinoza melihat bahwa Descartes tidak memiliki sebuah komitment yang akurat untuk mendefinisikan Substansi itu sendiri, karena dalam kenyataannya Descartes masih menerima adanya Substansi yang lain. Di sinilah Spinoza tidak setuju dengan gagasan yang disodorkan oleh Descartes. Tetapi, di sisi lain, Spinoza menerima gagasan yang disodorkan oleh Descartes yang mengatakan bahwa Substansi itu adalah sesuatu yang tidak membutuhkan yang lain, artinya bahwa Substansi itu adalah suatu realitas yang mandiri, otonom, utuh, satu dan tunggal.

Untuk memahami Substansi yang disodorkan oleh Descartes, Spinoza berpendapat bahwa Substansi itu adalah merupakan sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri atau sesuatu yang tidak membutuhkan aspek lain untuk membentuk dirinya menjadi ada. Jadi, dia itu berdiri sendiri dan membentuk dirinya sendiri. Itulah yang disebut sebagai causa prima non causata. Oleh karena itu, dalam tatanan ada (Primum Ontologicum), Substansi itu disebut sebagai yang pertama dan yang asali. Sedangkan dalam sistem kelogisan (Primum Logicum), Substansi merupakan realitas yang pertama dan yang Absolut.6 Dari sini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dalam pandangan Spinoza hanya ada satu Substansi dan Substansi itu adalah itu” Dia yang Tak Terhingga atau Allah. Konsep metafisika Spinoza terhadap Substansi sebagai realitas Yang Absolut, mau memperlihatkan dengan jelas obyek penjelajahan refleksi metafisika terhadap realitas Ada yang paling tinggi dan sempurna, yaitu refleksi tentang Allah sebagai realitas yang Absolut, murni, tunggal dan sempurna.

Tetapi, selain Allah sebagai Substansi. Spinoza juga melihat Alam sebagai substansi. Dengan kata lain, dalam pandangan Spinoza Allah atau Alam adalah merupakan suatu kenyataan tunggal yang memiliki satu kesatuan. Pemahaman ini berangkat dari suatu pemahaman terhadap pembedaan antara Substansi yang oleh Spinoza disebut sebagai atribut-atribut dan modi. Modi adalah cara berada dari atribut-atribut dan secara tidak langsung adalah dari Substansi. Memang benar bahwa Spinoza mengakui hanya ada satu Substansi, tetapi di dalam substansi itu terkandung atribut-atribut (sifat hakiki) yang tak terhingga jumlahnya. Namun, dari sekian banyak sifat hakiki itu hanya ada dua yang dapat diketahui oleh manusia, yaitu keluasan dan pemikiran (extensio dan cogitatio). Dalam hal ini, Spinoza melihat Allah sebagai keluasan (Deus est res extensa) dan pemikiran (Deus est res cogitans).7 Keluasan dan pemikiran merupakan dua hal yang memiliki substansi yang sama. Spinoza menggagas ini dalam ajarannya tentang Substansi tunggal yaitu Allah atau Alam (Deus Sive Natua). Menurut Spinoza, realitas Yang Absolut itu memiliki sifat yang abadi, tak terbatas, dan tunggal. Maka, dari pemahaman seperti ini Spinoza melihat bahwa karena Allah adalah satu-satunya Substansi, maka segala sesuatu yang ada di bumi atau alam ini adalah berasal dari Allah. Di sinilah Spinoza terus menerus tenggelam dalam suatu refleksi tentang hubungan antara Allah dan manusia sebagai satu kesatuan. Maka, untuk sampai kepada Allah, Spinoza mengatakan bahwa perlu ada cinta. Cinta merupakan suatu bentuk pengenalan tertinggi terhadap Tuhan. Melalui cinta, Spinoza melihat bahwa kita dapat menerima segala sesuatu yang ada di alam, dan dengan demikian manusia menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan sebagai realitas Yang absolut. Berawal dari sinilah Spinoza disebut sebagai filsuf yang tenggelam dalam Tuhan.

2.1.2. Riwayat Hidup Geoge Wilhelm Frederich Hegel

Hegel adalah seorang filsuf yang lahir di Stuttgart, Jerman pada tahun 1770. Ia belajar filsafat dan teologi di Tubingen bersama dengan Schelling. Pada saat Napoleon menguasai kota Jena, Hegel mengungsi ke Nunberg dan di sana ia menjadi Rektor Gymnasium. Pada tahun 1831 dia meninggal dunia di Berlin.

2.1.3. Gagasan Hegel Tentang Roh Mutlak

Hegel merupakan seorang filsuf yang memiliki pemikiran cemerlang dalam bidang filsafat. Ia sangat berpengaruh dalam memahami realitas yang terjadi di Jerman pada saat itu. Karyanya sebagai seorang filsuf banyak memberikan sumbangan pemikiran kepada setiap orang yang mencoba memahami realitas Absolut atau lebih tepatnya Tuhan sebagai puncak dari pencarian manusia. Dalam sistem filsafat Hegel, ada tiga bagian besar yang harus diketahui, yaitu: ilmu logika, filsafat alam, dan filsafat Roh. Dari ketiga bagian ini, saya memfokuskan diri hanya pada gagasan Hegel tentang filsafat Roh.

Dalam pandangan Hegel, seluruh kenyataan merupakan suatu kejadian dan kejadian itu merupakan kejadian Roh. Dan Roh itu adalah “itu Dia yang Absolut atau Allah. Menurut Hegel, Roh sebagai realitas Absolut sesungguhnya merupakan suatu ide yang melewati alam. Sekadar untuk diketahui bahwa dalam memahami alam, Hegel berbeda dengan Spinoza. Spinoza memahami alam sebagai satu Substansi yang memiliki satu kesatuan, sedangkan Hegel memahami alam sebagai satu tahap dalam kejadian Allah. Oleh karena itu, Hegel mengajukan bahwa dalam Roh mutlak itu terdapat Roh subyektif, yaitu subyek yang memiliki kesadran terhadap dirinya sendiri. Apa yang disebut sebagai Roh subyektif ini mengalami suatu perubahan menjadi Roh obyektif yang menciptakan suatu gambaran tentang hukum, moral, dan lain sebagainya. Karena Roh ini mengalami perubahan, maka puncak dari perkembangan Roh ini adalah Roh Absolut8 sebagai realitas yang sempurna. Di dalam Roh yang Aboslut ini, terkandung seni, agama, dan filsafat yang memiliki realitas Absolut atau Yang Tak Terhingga sebagai obyek perefleksiannya. Ketiganya merefleksikan yang Absolut itu dalam cara pandang yang berbeda-beda. Misalnya: seni memahami yang Absolut melalui pengamatan inderawi, yaitu melalui lukisan-lukisan. Melalui keindahan sebuah karya seni, Hegel melihat bahwa manusia dapat menunjukkan kemampuannya untuk memahami keindahan alam yang merupakan kesaksian sempurna terhadap fakta bahwa manusia dapat mengintuisi keindahan. Namun, alam hanyalah sebagai simbol yang ada dalam pikiran manusia, karena ada yang lebih indah dari alam, yaitu Allah sebagai realitas murni yang tak terbagi. Demikian juga agama mamahami Yang Absolut dalam imajinasi, yaitu melalui refleksi atau permenungan sehari-hari. Sedangkan filsafat memahami Yang absolut melalui rasionalitas atau pencarian akal budi manusia. Kendatipun ketiga unsur ini memiliki cara tersendiri untuk memahami Yang Absolut itu, namun mereka mempunyai obyek pengamatan yang sama, yaitu Allah sebagai realitas murni, tunggal, utuh dan tak terbatas.

3. Relevansi

Tidak dapat disangkal bahwa persoalan tentang Yang Absolut atau Allah dalam metafisika menimbulkan begitu banyak problem bagi para filsuf. Ada banyak interpretasi tentang Tuhan yang diajukan dengan tujuan bagaimana agar manusia sampai kepada pemahaman akurat tentang Yang Absolut itu sendiri. Bahkan dalam arti tertentu mereka merasa ragu untuk menjelaskannya. Namun, dalam keraguan mereka, mereka berusaha untuk terus menerus mencari dan merefleksikan siapakah Tuhan itu dalam kehidupan mereka.

Kendatipun banyak mengalami kesulitan dalam menginterpretasikan Yang absolut, namun para filsuf mencoba menjembatani bebagai keraguan manusia dengan menyodorkan berbagai gagasan yang mengarahkan manusia sampai kepada pemahaman akan Tuhan sebagai akhir dari pencarian manusia sepanjang hidupnya.

Apa yang digagas oleh Spinoza dan Hegel berkaitan dengan tema tentang Yang Absolut, saya tidak mengklaim bahwa kedua filsuf ini mengajukan gagasan yang salah untuk memahami siapakah Tuhan itu. Pun juga tidak mengatakan bahwa mereka menyodorkan gagasan-gagasan yang benar. Dengan kata lain, saya mau mengatakan bahwa apa yang mereka gagas tentang Allah bukanlah puncak pemahaman dan pencarian akan Yang Absolut. Buktinya, bahwa masih ada begitu banyak filsuf yang mencoba menggeluti dunia metafisis untuk memahami Allah sebagai realitas terakhir dari penjelajahan pencarian manusia. Menurut saya, Spinoza dan Hegel telah berjuang dan memiliki cara tersendiri untuk menginterpretasikan siapakah Tuhan dalam kehidupan mereka. Misalnya: Spinoza memahami Substansi sebagai “itu Dia yang Tak Terhingga atau Allah. Sedangkan Hegel memahami seluruh kenyataan Roh Mutlak sebagai Yang Tak Terbatas dan itulah Allah. Jadi, menurut saya tema yang disodorkan oleh Spinoza dan Hegel merupakan sumbangan pemikiran yang sangat penting dalam membangun keseluruhan gagasan-gagasan panorama metafisika teologi yang berbicara tentang Allah.

Saya melihat bahwa panorama metafisika Spinoza dan Hegel memberikan suatu arti penting dalam pencarian manusia akan realitas Yang Absolut. Pada zaman sekarang misalnya, ada banyak orang mencari Tuhan dalam kehidupan mereka dengan berbagai cara sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Akibatnya, agama ditinggalkan karena mereka tidak menemukan apa yang mereka idam-idamkan dalam hidup mereka, yakni Tuhan sang Maha cinta. Maka, melihat realitas yang demikian, saya berpendapat bahwa sangat penting bagi manusia zaman sekarang untuk mempelajari berbagai konsep yang diajukan oleh para filsuf yang pada akhirnya membawa manusia sampai kepada pemahaman akan Allah sang realitas Absolut. Tetapi, dalam memahami realitas Yang Absolut itu, kita tidak boleh berhenti pada satu pandangan saja. Pun juga kita tidak boleh dipengaruhi oleh pandangan tertentu untuk berbalik dari iman kita. Sebaliknya, kita memahami semua gagasan yang ada dengan tujuan untuk membantu kita berpikir dan berefleksi sejauh mana kita memahami siapakah Allah itu. Karena hanya dengan cara demikian kita dibantu untuk sampai kepada pemahaman akan Allah sebagai tujuan terakhir dari pencarian dan pergulatan batin di dunia ini.

4. Kesimpulan

Apa yang dapat disimpulkan dari gagasan yang disodorkan oleh kedua filsuf ini berkaitan dengan pemahaman mereka terhadap Yang Absolut itu? Menurut saya, ada dua poin yang dapat disimpulkan dari filsafat Spinoza dan Hegel atas sumbangan mereka terhadap pertanyaan siapakah Allah. Pertama: Spinoza memperlihatkan konsep metafisika teologi dari sudut pandang Substansi sebagai itu Dia Yang Tak Terhingga dan akhirnya dipahami sebagai Allah. Bagi Spinoza, segala sesuatu yang ada di bumi ini adalah berasal dari Allah. Jadi, alam juga merupakan suatu substansi. Dengan kata lain, Allah dan alam merupakan satu kenyataan tunggal yang memiliki satu Substansi. Kedua: Dalam filsafat Hegel, konsep Allah secara metafisis dilihat dari sudut pandang Roh Mutlak sebagai “itu” Dia Yang Absolut, yang Murni, dan yang tunggal. Bagi Hegel, seluruh kenyataan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Roh Mutlak. Manusia dan substansi duniawi lain adalah fase dan bagian dari proses penjelmaan dari Roh Mutlak.

Sebagai catatan kritis saya terhadap filsafat Spinoza adalah bahwa Spinoza tidak konsisten dengan gagasan yang dia ajukan, karena ia menggabungkan Allah dan Alam menjadi satu realitas yang memiliki satu kesatuan. Menurut saya, dengan menggabungkan Allah dan alam menjadi satu kesatuan yang memiliki substansi yang sama, maka Spinoza mereduksi individualitas, kebebasan, dan tanggungjawab manusia. Dengan kata lain bahwa Spinoza menolak personalitas. Lalu, pertanyaannya adalah di manakah tanggungjawab manusia?

Blasius Baene adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana Malang

Daftar Pustaka

Bakker, Anton, Ontologi Metafisika Umum, Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Bertens, K. Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia, Jakarta: Gramedia, 1988.

——Filsafat Barat Abad XX, Jilid II, Jakarta: Gramedia, 1985.

Budi Hardiman, F. Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia, 2004.

Hamersma, Harry, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, 1984.

Petrus L. Tjahjadi, Simon, Petualangan Intelektual, Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Riyanto, Armada, Metafisika (Diktat Kuliah), Malang: STFT Widya Sasana Malang, 2004.

——-Pengantar Filsafat (Diktat Kuliah), Malang: STFT Widya Sasana Malang, 2002.

 

 

Footnotes:

 


1 Dr. Armada Riyanto, Metafisika (Diktat Kuliah), Malang: STFT Widya Sasana Malang, 2002, hlm. 24.

2 Dr. Harry Hamersma, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, 1984, hal. 9.

3 Ortodoks adalah suatu ajaran yang berpegang teguh pada ajaran resmi, misalnya ajaran resmi dalam sebuah agama yang diyakini secara mendalam

4 Dr. F. Budi Hardiman, Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia, 2004, hal. 45.

5 K. Bertens, Filsuf-filsuf Besar tantang Manusia, Jakarta: Gramedia, 1988, hal. 74.

6 Ibid, hal. 74.

7 Simon Petus L. Tjahjadi, Petualangan Intelektual, Yogyakarta: Kanisius, 2004, hal. 213.

8 Ibid, hal. 103.

 

 

About these ads
Comments
6 Responses to “Allah Menurut Spinoza dan Hegel: Suatu Tinjauan Filosofis atas Panorama Metafisika”
  1. Luar biasa….!!
    Allah sebagai realitas yang absolut, murni tunggal dan sempurna. Hal ini mengaitkan bahwa Allah adalah substansi yang absolut. Tetapi benarkah Allah itu realitas atau substansi? Hal ini membutuhkan pemikiran filosofis lebih lanjut bahkan masuk dalam realitas yang absolut.

    Mari kita membahasakannya.

  2. blasius baene says:

    terima kasih banyak saya sampaikan kepada saudara Deivine SIgnor yang telah memberi komentar atas tulisan saya ini. saya merasa senang karena saudara memberi sebuah komentar yang membangunkan saya dari tidur saya selama ini. saya menyadari bahwa menulis bukan hal yang mudah. tetapi, selagi ada kesempatan saya akan berusaha dan terus mengisi web ini dengan tulisan-tulisan ilmiah. sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih banyak. God Bless you.

  3. The Holy seperti yang diungkapkan oleh Rudolf Otto jika sepadankan dengan pendapat Spinoza dan Hegel akan semakin memperlihatkan pertalian yang sangat rentan. Kenapa? Sebab the Holy adalah paardigma abstrak yang tidak pernah bisa ditangkap substansinya. Bagaimana menurut anda?

  4. anzell bero says:

    proficiat Blas. u hebat,he,e,e

Trackbacks
Check out what others are saying...


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: